Komunitas Wijaya Kusumah

Posted: June 11, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

Pada hari selasa tanggal 13 mei 2014 yang lalu aku menemui dokter hematologku yang berpraktek di klinik wijaya kusuma dengan maksud untuk meminta rujukan guna pemeriksaan uji kromosom “Philadelpia +” atau biasa disebut BCR-ABL.

Tanpa curiga sedikitpun aku masuk dan mendaftar di Klinik Wijaya Kusumah yang letaknya berada di salah satu sudut yang rindang dan asri di dalam kawasan Rumah Sakit Umum Fatmawati di bilangan Cilandak Jakarta Selatan.

Klinik yang tidak seberapa besar itupun cukup nyaman dan tidak terlalu banyak pasienya, hanya sekitar tiga puluh orang saja itupun terbagi di beberapa poli, seperti poli penyakit dalam, poli paru, poli gigi dan lain lain.

martin

Yang membuatku awalnya agak heran adalah, hampir semua pengunjung dan perawat yang bertugas di klinik ini mengenal satu sama lainya seperti sebelumnya sudah pernah bertemu bahkan beberapa diantaranya terlihat sangat akrab sekali. Hanya akulah satu satunya pasien yang tidak mereka kenal dan itu cukup menjadi perhatian bagi beberapa orang diantara mereka yang mulai mendekatiku untuk menarikku masuk dalam komunitas mereka karena aku terlihat cukup sehat dan perduli, terbukti ketika ada seorang pasien yang terjatuh dari kursi rodanya akulah salah seorang yang pertama menolongnya dengan sigap bahkan ikut membopong pasien yang sudah sangat lemah dan kurus tersebut untuk di baringkan di kursi panjang.

Akupun baru menyadari bahwa di muka pintu utama ada sebuah ruangan yang ternyata adalah ruangan tempat berkumpulnya para relawan yang tergabung dalam “Relawan Wijaya Kusumah”.
Dan hampir empat jam aku berada di klinik tersebut, terbukalah kedua mataku bahwa klinik tersebut adalah klinik khusus bagi para penderita HIV-AIDS yang berdomisili di Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Bagai di sambar petir di siang bolong,,, nyaliku sontak ciut terlebih lagi kondisiku sedang sangat tidak prima dimana jumlah leukositku hanya terbilang 3700 saja dan itu termasuk rendah untuk ukuran normal sekalipun apalagi untuku yang menderita leukemia di mana tubuhku hampir bisa di bilang tidak memiliki pertahanan sedikitpun terhadap infeksi sekecil apapun, apalagi terhadap virus hiv-aids yang terkenal kuat dan ganas. Penyesalan memang selalu datang terlambat terlebih aku yang memang tidak membiasakan diri untuk selalu menggunakan masker di tempat tempat umum dan rumah sakit seperti kebanyakan orang dengan leukemia yang selalu mengenakan masker ditempat tempat umum.

Aku yang pada awalnya kaget dan takut setengah mati mengetahui bahwa aku berada diantara puluhan orang yang terinveksi hiv-aids positip akhirnya bisa mengendalikan diri dan tentunya sadar diri bahwa penyakit yang aku idap juga sebenarnya juga penyakit yang sangat mematikan meskipun tidak menular dan mengapa pula aku harus takut karena jika memang sudah takdirnya mungkin sudah sejak sepuluh tahun yang lalu aku sudah mati. Dan beberapa jam bersama mereka semakin membuka kesadaranku betapa selama ini aku masih sangat kurang dalam bersyukur, dimana aku masih kerap merasa menjadi orang yang paling menderita di atas dunia ini, padahal diluar sana masih banyak mereka yang jauh lebih menderita dariku.

wk

Terlihat jelas betapa mereka yang di dunia luar di kucilkan dan terpinggirkan karena virus yang menginveksi tubuh mereka itu sangat menular dan ganas, namun mereka di komunitas itu saling support saling bantu dan saling tolong. Yang masih kuat menolong mereka yang sudah lemah dan jika sikuat tahadi sudah mulai melemah,,, akan ada lagi yang lebih kuat datang membantunya, dan begitu terus menerus sehingga komunitas tersebut tetap eksis menjaga satu sama lain layaknya sebuah keluarga.

Aku sempat berkenalan dengan beberapa orang yang terlihat simpatik dan perduli karena mereka pikir aku juga sudah terinfeksi virus mematikan yang belum ada obatnya itu, aku juga sempat berbicara lama serta bertukar nomor tilpun dengan seorang wanita yang siang itu datang menggunakan taxi yang membawa dua orang pasien yang sudah sangat kurus dan lemah untuk menemui dokter internis.

Awalnya aku berpikir wanita itu adalah salah seorang kerabat atau keluarganya, tetapi ternyata ia adalah seorang relawan yang juga penderita HIV positip yang memiliki keperdulian yang tinggi untuk menolong dan membantu komunitasnya dengan menjemput beberapa orang pasien dari rumahnya masing masing, terutama terhadap pasien pasien yang sudah sangat lemah dan tentunya yang sudah di acuhkan oleh keluarganya.

Subhanallah,,, meskipun secara teori mereka bisa hidup normal layaknya seorang yang sehat karena virus dalam tubuh mereka ditidurkan dengan obat obatan ANTI VIRAL yang terus mereka konsumsi sepanjang hidup mereka, namun kenyataanya hampir tidak ada seorangpun yang bisa sembuh dan lolos dari kematian yang tragis karena AIDS yang mereka idap, persis seperti komunitas CML yang pernah aku ikuti, di mana aku seperti menunggu antrian untuk mati.

Dan panggilan kematian yang ternyata tidak menggunakan nomor urut itupun membuat kami selalu was was dan saling menerka nerka siapa yang mendapat panggilan berikutnya, dan itu sama persis seperti yang di rasakan oleh mereka anggota komunitas Wijaya Kusuma itu.

Akupun menutup rapat rapat informasi yang sebenarnya bahwa aku bukan dari komunitas mereka dan aku juga tidak terinveksi virus HIV-AIDS  untuk menjaga perasaan mereka, karena sebelumnya ada seorang pemuda yang sempat menumpahkan curahan hatinya kepadaku dimana dia begitu menyesali betapa hidupnya seolah tidak memiliki lagi masa depan, bahkan kematian seolah sudah berada didepan pelupuk matanya karena sudah berbulan bulan batuknya tidak kunjung sembuh, bahkan semakin lama semakin memburuk.

Demikian sekilas perkenalanku yang sebenarnya tidak aku sengaja ini dengan komunitas yang menurut banyak orang adalah kumpulan orang orang yang sedang “menunggu ajal”, meskipun sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan kondisiku sendiri atau sahabat sahabatku yang hidup dengan  LEUKEMIA.

Wassalam.

Tulisan Terkait :

– Buku Tamu.
– Forum Leukemia.
– Hydrea 500mg.

“Semua Tulisan Oce Kojiro”

Comments
  1. retty nereng says:

    Ocekojiro….banyak komunitas seperti itu, komunitas penderita hiv-aids, komunitas leuikimia, komunitas cancer payudara, dan komunitas ca – umum, ada juga komunitas penderita thalasemia , dan komunitas pnderita lupus, saya punya banyak teman, saya punya teman yang meneliti hiv aids dengan tari..dulu ada komunitas ini, anda bisa contact saya di rettynereng@gmail.com, nanti saya cari info lebih lanjut dengan teman saya

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s