Maaf 2

Posted: August 21, 2011 in Uncategorized
Tags: , , , , ,

Pada awal bulan Agustus 2010,  sepasang suami istri bersama seorang anak lelakinya datang  ke kediamanku di pondok Cabe. Tujuannya adalah  untuk diperbolehkan mengontrak salah satu rumah ‘petakan’  sederhana milik kami yang memang telah beberapa hari kosong karena penghuni lamanya sudah pindah.

Seperti biasa, prosedur standar saya jalankan dengan bertanya tentang asal dan pekerjaan pasangan suami istri itu untuk sekedar berpartisipasi dalam mencegah tindak kejahatan dan terorisme, hingga kami ketahui bahwa sang suami bekerja sebagai tukang batu serabutan,  sedang istrinya sebagai pembantu rumah tangga di sebuah komplek perumahan dekat dengan tempat tinggal kami. Dan yang menarik perhatianku adalah anak lelaki pasangan suami istri itu yang bernama Putra, bocah lelaki berumur sekitar 14 tahun itu terlihat begitu kurus, jalannya pun sesekali dipapah oleh ibunya,  serta dapat terlihat jelas ada sebuah pembengkakan besar pada leher  sebelah kanan dan kirinya sehingga dia terlihat sangat tidak nyaman serta kesakitan.  Jika berjalan, ia layaknya seperti robot karena kepalanya harus mengikuti gerakan tubuhnya dan dia pun tidak bisa menoleh kekiri ataupun kekanan dengan leluasa.

Dengan hati hati saya bertanya tentang kondisi anaknya itu dan betapa terkejutnya aku ketika pasangan suami istri yang berumur sekitar 40 tahun itu mengatakan bahwa anak lelakinya itu terkena penyakit Kanker getah bening.  Nafasku tercekat, tenggorokanku langsung kering mendengar penuturan lelaki dihadapanku yang bernama Arie itu yang kemudian menuturkan bahwa ia membawa anaknya ke jakarta ini karena disuruh oleh  seorang ustadz  dimana ia pernah bekerja merenofasi rumahnya didaerah Cireundeu. Dan sang ustadz yang membuka praktek pengobatan alternativ dirumahnya itu berjanji akan berusaha mengobati anaknya tanpa perlu harus di bayar.

Akupun menyuruh istriku membuatkan minuman untuk sekedar menahan mereka lebih lama, terutama untuk mengorek keterangan tentang ustadz yang mengobati bocah lelaki itu, serta menanyakan apakah anaknya pernah dibawa kedokter atau tidak ? Mereka pun menjawab serta menerangkan dengan cukup jelas,  bahwa bocah itu telah menjalani serangkayan pemeriksaan darah serta radiologi di kampungnya, bahkan pernah juga mendapat rujukan ke sebuah Rumah Sakit Umum Daerah di Jawa Tengah,  karena puskesmas tempat mereka berobat itu tidak memiliki peralatan yang cukup memadai untuk merawat penyakit anaknya itu.

Singkat cerita, mas Arie memohon untuk diperbolehkan menempati rumah kontrakanku yang kosong pada hari itu juga, karena menurutnya kontrakan yang mereka tinggali sekarang ini  berukuran hanya 2×3 merter persegi dan sangat sumpek sekali terutama penggunaan dapur serta kamar mandinya  yang terletak dibelakang rumah dan digunakan untuk umum atau bersama sama dengan penghuni kontrakan yang lain.  Akupun menyerahkan kunci rumah kontrakan kami yang menurutku juga masih sangat sederhana, hanya  sedikit lebih luas dan terlihat bersih karena sudah menggunakan lantai keramik, serta terdiri dari tiga ruang yaitu ruang depan, ruang tengah dan kamar mandi serta sedikit dapur.  Mereka segera pamit untuk membersihkan terlebih dahulu rumah yang akan mereka tempati itu, dan kemudian pada sore harinya, kedua suami istri itu terlihat beberapa kali bolak balik dengan berjalan kaki sambil membawa berbagai perlengkapan rumah tangga yang mereka miliki yang berupa televisi 14 inci, kasur dan beberapa kantong plastik berisi pakayan serta alat perlengkapan dapur.

Selepas isya mereka kembali datang kerumahku yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah petakan yang baru beberapa saat lalu  mereka huni, tujuannya adalah untuk membayar sewa rumah  sebesar Rp 350.000 untuk setiap bulannya,  serta menyatakan bahwa hari itu mereka telah resmi menjadi salah satu penghuni kontrakan milik kami yang seluruhnya hanya berjumlah tujuh pintu saja. Akupun mengambil satu lembar uang lima puluh ribuan yang baru beberapa saat lalu diserahkan kepadaku itu, lalu memberikannya kepada bocah lelaki yang sudah merengek untuk minta segera pulang itu sembari berkata : “Ini untuk ongkos berobat ke rumah pak ustadz yaa…”  Dan sejak saat itulah aku selalu memotong  sewa uang kontraknya  untuk kuberikan kepada bocah lelaki yang bercita cita menjadi pilot itu, untuk sekedar menambah ongkos untuk naik angkot kerumah pak ustadz yang merawat Putra tanpa dikenakan tarif  itu.

Minggu berganti bulan, kondisi Putra semakin membaik dengan ditandai semakin mengecilnya bengkak pada lehernya dan semakin seringnya Putra bermain dengan teman temannya dihalaman rumah kami. Akupun sering bertanya kepada orang tuanya tentang cara pengobatan yang dilakukan sang ustadz serta obatnya, yang menurut mas Arie hanya diusap usap dan didoakan saja oleh sang ustadz,  sedangkan obatnya hanyalah dengan ditempeli dedaunan yang sebelumnya dipanaskan diatas kompor. Dedaunan kecil berbentuk hati dari tumbuhan berwarna hijau yang merambat itu bisa kita cari sendiri disekitar halaman dan banyak merambat ditembok  rumah,  serta dipinggir pinggir selokan yang tidak terurus.

Hampir satu tahun berlalu dan kondisi Putra sudah pulih sepenuhnya, bahkan menurut mas Arie sudah tidak perlu lagi datang ke rumah pak ustadz di Cirendeu sejak beberapa bulan lalu, asalkan selalu mentaati pantangan yang tidak boleh dimakan, yaitu telur dan mie instan. Dan karena kondisinya sudah pulih, maka pada pertengahan bulan Juli 2011 Putra juga sudah bersiap untuk bersekolah di sebuah SMP Islam,  dengan mendapatkan keringanan biaya sekolah karena orang tuanya termasuk katagori tidak mampu.

Karena pertimbangan bahwa Putra sudah sembuh, dan tidak lagi perlu ongkos untuk pergi kerumah ustadz yang merawatnya, maka sejak bulan Juni 2011 atau hampir satu tahun semenjak mereka tinggal dikontrakan milik kami, aku tidak lagi memberikan bantuan ongkos yang tidak seberapa itu kepada Putra, dan keputusan inilah yang membuat aku sangat menyesal. Ya,,, karena pada pertengahan Juli, yaitu tepat ketika Putra hendak masuk untuk mengikuti masa orientasi disekolah barunya, tiba tiba saja lehernya kembali membengkak. Tubuhnya kembali lesu karena demam dan keceriaannya serta merta hilang dari wajah dan hidupnya.

Aku sangat terkejut ketika mendengar kabar dari ibunya Putra, hingga selalu membayangkan bahwa kambuhnya penyakit Putra disebabkan karena aku tidak lagi memberikan bantuan ongkos yang tidak seberapa itu, namun buru buru perasaan bersalah itu aku coba kait kaitkan dengan sebab yang lain yang lebih masuk akal seperti telah meninggal dunianya sang ustadz yang merawat Putra pada ahir bulan Juni yang lalu,  atau karena Putra telah sering melanggar pantangan yang dilarang oleh sang ustadz  untuk dimakan seperti mie instan dengan telur yang memang ahir ahir ini sering dikonsumsi oleh Putra. Aku sebenarnya tidak suka menghubung hubungkan sebuah kejadian dengan sebab sebab yang tidak jelas, apalagi yang berkenaan dengan takdir Allah, namun,,, perasaan bersalah dalam hatiku pun selalu menuntut jawaban instan guna menenangkan gundahnya hatiku.

Sudah hampir seminggu ini, setiap sore aku membakar sendiri sampah rumah tangga yang dihasilkan dari rumahku serta beberapa rumah kontrakan milikku, tujuannya bukan karena aku sangat mencintai kebersihan,,, akan tetapi karena aku hanya sekedar ingin mendengarkan percakapan yang keluar dari dapur rumah kontrakan nomor 2 yang  ditempati oleh Putra dan kedua orang tuanya itu yang berada tepat dibelakang lobang tempat kami membakar sampah.  Setiap sore hari, suara tangis Putra terdengar memilukan diiringi kecipak air dimana ibunya dengan sabar memandikan anak lelakinya itu. Terkadang omelan  serta tangisan kecil juga keluar dari mulut sang ibu yang jengkel karena putra kerap menangis meraung raung sembari menghentakkan kakinya kelantai kamar mandi.  Tak terasa air mataku ikut mengalir, dan ketika itu aku membayangkan diriku adalah seorang khalifah Umar ibn Khattab yang kerap keluar pada malam hari guna mendengarkan keluh kesah rakyatnya, dimana ia pernah mendengarkan rintihan seorang gadis kecil beserta ibunya yang sedang merebus seonggok batu karena tak ada makanan apapun yang dapat mereka masak.  Bedanya aku dengan khalifah yang sangat adil itu adalah,  jika Umar ibn khattab dengan mudahnya bisa pulang dan membuka pintu gudang makanan di Baitul Mal*, dan kembali dengan sekarung gandum untuk diberikan kepada ibu dan gadis kecil itu, sedangkan aku,,, jika pulang pun tidak akan ada gudang uang yang bisa aku buka untuk  mengambil sedikit isinya guna membawa Putra kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan penyakitnya serta membeli obat penghilang rasa sakit yang sangat dibutuhkannya saat itu.

Pagi itu, tepat tanggal 17 Agustus 2011, sebagian orang dinegeri ini merayakan hari kemerdekaan Republik tercinta ini dengan suka cita meskipun masih dibulan puasa,  namun tidak ada keceriaan yang terpancar dari wajah Putra dan keluarganya, bahkan tidak ada bendera merah putih yang berkibar dihalaman rumahnya, sebaliknya  Putra hanya  menangis tersedu sedu sembari memegang remote countrol sebuah  televisi 14 inci yang menjadi sahabat setianya. Akupun menemui mas Arie guna membujuknya untuk segera membawa Putra ke Puskesmas guna memeriksakan penyakitnya, namun mas Arie hanya diam saja sembari membayangkan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkannya kelak. Aku pun terus membujuk dan meyakinkannya bahwa kita harus tetap berusaha meskipun hanya sekedar membawa Putra ke Puskesmas untuk mendapatkan haknya sebagai warganegara, dan akupun berjanji akan berusaha membantu jika dikemudian hari Putra membutuhkan biaya untuk pemeriksaan darah di laboratorium ataupun Rountget  jika dibutuhkan untuk menunjang diagnosa penyakitnya.  Mas Arie pun mengangguk pelan tanda setuju seraya berkata ;  Besok besok deh,,, jika ibunya Putra sempat, soalnya saya  harus bekerja, bahkan  sering lembur hingga jam sembilan malam karena pemilik rumah yang sedang direnovasi saat ini menargetkan harus menyelesaikan pekerjaannya  sebelum hari raya tiba. Akupun setuju saja karena merasa tidak berhak memberikan keputusan apapun sebatas hanya memberikan saran saja.

Aku tidak begitu yakin bahwa dengan membawa Putra ke Puskesmas akan menyelesaikan masalahnya, namun harus ada sebuah langkah awal untuk memulai sebuah perjalanan  sejauh manapun juga. Dan langkah awal yang paling masuk akal untuk saat ini adalah dengan memeriksakan bocah itu ke Puskesmas.  Adapun jika kemudian terbukti bahwa penyakit Putra kambuh lagi, atau malah ada penyakit baru yang diderita, itu urusan nanti.

Wassalam.



_____________________________________________________________________________________________

Artikel Terkait :
– Maaf
– KELINCI PERCOBAAN
– My Secret Therapy

Advertisements
Comments
  1. Menarik sekali Mas Oce, ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari cerita ini. Salah satunya adalah bahwa kita harus senantiasa tertib dan kuat. mak sud saya. Si Ibu dan Bapak itu, mengapa sampai tega memberikan makanan kepada anaknya berupa makanan yang dilarang untuk dikonsumsi karena membahayakan kesehatannya? telur dan mie instan itu dilarang, tentu ada alasan yang jelas.
    Pernah saya dengar sebuah cerita, bahwa orang yang habis dioperasi seperti apapun hausnya, tak boleh minum air sedikitpun. Namun pada sebuah kesempatan, karena kasihan kepada salah satu keluarganya yang habis dioperasi, seseorang memberinya minum sedikit (satu tutup botol aqua) naas jadinya. Begitulah jika kita melanggar aturan yang telah ditetapkan.
    Semoga menjadi sebuah cermin bagi kita semua.

    salam,
    SR

  2. sitinuryani says:

    dah lama ngk baca tulisanmu…….kangen juga tp dah terobati deh

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s