MENUNAIKAN IBADAH HAJI ( Meluruskan Niat )

Posted: October 7, 2013 in Uncategorized
Tags: , , ,

(SAMBUNGAN)… Hari terus berganti dan keberangkatanku ke tanah suci sepertinya sudah tidak terhindarkan lagi meskipun didalam hati ini masih ada sedikit keraguan apakah perubahan niatku sudah benar benar tulus karena Allah SWT atau hanyalah sebuah pelipur lara saja karena pada kenyataannya kondisi fisikku mulai melemah seiring melemahnya mentalku menghadapi ketakutanku akan kematian yang aku rasakan semakin kian mendekat itu.

oce

Bersama Uget dan aki Ahmad dikediaman aki di kota Makkah.

Hari keberangkatan ahirnya tiba, dan seluruh jamaah yang berasal dari kecamatan Ciputat dikumpulkan di dalam aula kecamatan kecuali aku yang masih mengigil karena demam tinggi dan harus beristirahat di dalam mobil, bahkan untuk menandatangani daftar hadirpun aku tidak mampu dan istriku membawakan lembaran absensi untuk aku tandatangani di dalam mobil karena pihak panitia mewajibkan seluruh calon jamaah untuk menandatangani daftar hadir sebagai tanda bahwa mereka telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Pada saat itulah aku menyerahkan telpon selularku kepada istriku untuk aku tinggalkan dan berpesan untuk mengiklaskan kepergianku itu karena aku bertekat bulat untuk tidak akan pernah mengabarkan kondisiku selama keberangkatanku kepada istri dan keluargaku yang pastinya juga mereka tidak akan bisa berbuat apa apa ketika mendapati kabar bahwa aku sedang tergeletak sakit atau sekarat sekalipun. Sembari menangis dan berlinangan air mata, istri dan ibundaku yang ketika itu turut mengantarku di dalam mobil sempat protes kepadaku mengapa telepon selularku sebagai penghubung itu harus aku tinggalkan ? Namun akhirnya merekapun memahami perasaan dan keyakinanku karena hanya akan membuatku semakin susah sajalah jika kelak aku mendapati kabar bahwa anak atau istriku menderita sakit, karena aku tetap tidak akan bisa berbuat apa apa, begitu pula sebaliknya.

Oya, ada sedikit skenario dari Tuhan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, karena pada awalnya aku sengaja untuk berangkat haji tidak melalui Yayasan penyelenggara haji yang profesional, melainkan aku mendaftar pada kelompok Haji Mandiri  yang notabene harus mengurus segala sesuatunya secara mandiri terutama ketika sudah menjejakkan kaki dikota Makkah atau Madinah yang tentunya sudah di padati oleh jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.

Kelompok haji mandiri ini biasanya di selenggarakan oleh masing masing Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat kecamatan dan umumnya di ikuti oleh mereka yang kurang secara ekonomi karena pada kelompok ini hampir tidak dipungut biaya tambahan sama sekali, dan sebagai konsekwensinya para jamaah yang masuk dalam kelompok ini harus mengurus sendiri segala sesuatunya ketika menjalankan ibadah disana, baik mengurus aneka dokumen dan mengangkat barang bawaannya sendiri sampai segala hal yang bersifat ibadah, baik ibadah ibadah yang wajib maupun yang sunnah bahkan untuk sekedar berziarah ketempat tempat bersejarah di kedua kota suci itu. Dan karena itulah jamaah pada kelompok haji mandiri ini terbilang sedikit serta banyak yang masih berusia muda karena memang bagi yang sudah cukup berumur sangat tidak di sarankan untuk mengikuti kelompok ini.

Alih alih memiliki niat  untuk menghindar bertemunya dengan orang yang aku kenal ataupun mereka yang akan mengurusku ketika aku manjalankan ibadah haji di tengah jutaan orang yang berdesak desakan pada sebuah tempat kecil bernama Makkah dan Madinah, dilalahnya aku malah bertemu dengan sahabat lamaku yaitu Muhammad Izzudin (Uget) karena kami pernah sama sama kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta meskipun berbeda Fakultas. Yang tidak pernah aku sangka sangka sebelumnya adalah bahwa sahabatku ini berangkat sendiri sama persis sepertiku namun bedanya beliau dalam kondisi yang sangat prima bahkan menjadi ketua regu dimana aku menjadi salah seorang anggota regu yang berada dibawah pengawasan dan tanggung jawabnya. Masih yakin ini hanyalah sebuah kebetulan semata ?  Subhanallah…

haji7

Bersama sobat Bahroin di sudut lobby hotel

Satu hari satu malam menginap di Asrama haji Pondok Gede demamku mulai mereda dan di sanalah aku mulai bisa melupakan bayang bayang rumah serta seluruh anggota keluargaku yang selama ini terus terpatri kuat dalam otakku yang membuatku terus menerus takut akan kehilangan orang orang yang begitu aku cintai dalam hidupku ini.

Akupun mulai merasa riang, seriang hatiku yang selalu aku rasakan ketika hendak pergi menjelajah bukit terjal dan gunung gunung di kota kota dan daerah yang belum pernah aku datangi sebelumnya di seluruh Indonesia dengan sebuah ‘carrier besar di punggungku sebagai seorang pecinta alam. Kali ini aku merasakan sebuah sensasi adventure yang jauh berbeda dari sebelumnya dan untuk lebih meresapi dan menikmatinya, akupun membeli sebuah Al Quran (kecil) serta sebuah kacamata baca yang ternyata sudah +1,5.

Pesawat yang aku tumpangi sudah menderu deru memekakkan telinga dan ketika itulah aku mulai membuka dan membaca Al Qu’ran yang aku beli di Asrama Haji Pondok Gede dan bertekat akan mengkhatamkannya minimal satu kali sepanjang perjalanan suciku ini hingga kembali lagi nanti meskipun nantinya hanya pulang nama. Sejak itu pula,,, aku bertekat bahwa tidak akan aku sia-siakan waktuku yang sedikit ini untuk hal hal yang tidak berguna kecuali sebuah perbuatan baik atau yang bernilai ibadah.

Sejak berangkat dari Asrama Haji Pondok Gede menuju bandara Internasional Soekarno Hatta, aku sudah mandi dan bersuci dan berencana akan ‘niat haji dengan sudah memakai ‘baju ihram di atas pesawat, atau ketika pesawat tepat melintasi perbatasan yang disebut ‘miqot, dan untungnya pihak penerbangan memberitahukan dengan tepat ketika kami harus mengganti pakayan dan melafalkan niat untuk ber-haji, karena rupanya tidak banyak yang memiliki keyakinan untuk merniat haji dan menggunakan kain ihram di atas pesawat menimbang hal tersebut agak sulit di lakukan terutama karena keterbatasan air untuk mandi dan bersuci.

Perjalanan bus dari Jeddah menuju Makkah banyak membawa kejutan, kejutan pertamaku yaitu ketika sampai di pos pertama dimana selain setiap jamaah di berikan satu buah Al Qu’ran versi kerajaan yang menurutku sangat baik cetakannya, aku pun begitu takjub dengan pemberian satu botol ‘air zam zam ukuran 1,5 liter yang langsung aku minum sedikit sedikit, bahkan aku usapkan ke seluruh wajahku dengan kecintaan yang begitu tinggi serta di irit irit seperti aku memperlakukan air zamzam di negeriku sendiri, padahal beberapa saat lagi aku akan mendapati sebuah kenyataan bahwa air zamzam di kota Makkah sangat melimpah ruah, dan jika aku mau,,, bisa saja selama di Makkah aku tidak akan mengkonsumsi air minum apapun kecuali air zamzam. Subhanallah…

DSCI0176

Saat santai di cafetaria Ajyad Makarim Hotel.

Kejutan keduaku adalah ketika bus yang membawaku tidak di perkenankan menurunkan penumpangnya di tempat yang seharusnya kami di tempatkan. Sedikit sedikit aku masih bisa memahami percakapan beberapa petugas maktab dengan petugas pemondokan yang berada di kawasan ‘Misfalah tempat kami seharusnya berada. Aku yang pernah menjadi santri pada Pondok Pesantren Darunnajah masih sedikit faham dengan pertengkaran antara beberapa orang Arab di samping jendelaku dan aku begitu terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa tempat kami telah di tempati oleh jamaah asal India yang telah datang terlebih dahulu. Lalu dengan marahnya terlihat petugas arab yang bertanggung jawab dengan rombongan kami pun mengambil sebuah berkas yang sebelumnya berada di tangan koordinator arab lainnya dan dengan sesekali berteriak marah, dia pun membawa rombongan kami pindah menuju sebuah tempat yang menjadi pengganti tempat kami. AJYAD MAKARIM HOTEL.

DSCI0126

Terowongan Mina yang legendaris.

Tak pernah kami bayangkan sebelumnya, bahwa kami yang seharusnya menempati sebuah penginapan atau perumahan sederhana di kawasan yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari Masjidilharom, kini malah bisa menempati sebuah hotel berbintang 4  dan jaraknya hanya 600 meter dari pintu utama dan pintu terbesar dari Masjidilharom yaitu ‘Babul Abdul Aziz, dan bahkan dari salah satu sudut jendela di lantai 6 kamar kamar kami, aku dapat dengan jelas melihat dua buah menara Masjid berdiri dengan megahnya menggetarkan dadaku, saking terlihat begitu dekatnya, aku beberapa kali mencoba menggapai kedua menara itu dengan menjulurkan tanganku melalui jendela hotel.  

DSCI0107

Salah satu dari 3 buah baskom besar nasi kebuli kiriman dari langit ketika di padang Arafah.

Selama di kota Makkah, bisa di bilang kondisi fisikku relatip baik, meskipun semenjak hari pertama menginjakkan kaki disana darah tidak pernah berhenti merembes dari gusi dan hidungku dan ketika obat penambah darahku habis karena terkadang dosisnya aku naikkan secara semena mena untuk menghindari anjloknya HB darahku. Dan karena sulitnya mencari obat penambah darah yang mereknya spesifik seperti yang biasa aku konsumsi, dokter kloter yang sudah begitu akrab denganku berinisiatip memberikan pengumuman kepada para jamaah satu kloter bahwa bagi mereka yang memiliki persediaan obat Sangobion yang berlebih boleh memberikan kepadanya karena ada yang membutuhkannya dan tidak menunggu lama maka puluhan strip obat sangobion pun aku dapatkan dengan mudahnya.

Diam diam,,, aku sebenarnya sudah membawa uang yang telah aku tukarkan dalam mata uang Real dalam jumlah yang cukup banyak bahkan hingga belasan juta rupiah dimana uang tersebut sengaja aku siapkan untuk membayar orang orang bayaran yang mau (bersedia) membawa dan mengantarkanku baik dengan kursi roda atau sarana apapun yang memungkinkan agar aku dapat menjalankan seluruh rangkayan ibadah haji seluruhnya tanpa ada satupun rukun haji yang terlewatkan meskipun kondisi fisikku nantinya tidak memungkinkan. Namun karena sahabatku Uget konsisten dengan komitmentnya bahwa dia akan menjalankan sebaik mungkin tugasnya sebagai ketua regu, maka aku tidak perlu lagi menyewa kursi roda ataupun membayar orang untuk menggendongku baik untuk bertawaf, melempar jumroh ataupun rukun rukun haji lainnya, karena sahabatku itu selalu siap menemani dan menjadi tameng bagi tubuhku yang lemah ini selama menjalani ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra seperti tawaf, jumroh dan lain lain.

Ya,,, tawaf dan melontar jumroh adalah rukun haji yang terbilang cukup berat yg harus aku lakukan sendiri tanpa ingin diwakilkan oleh orang lain, bahkan pada tawaf ifadah dimana setelah pelaksanaan wukuf di arofah seluruh jamaah haji tumpah ruah berada diseputar Ka’bah untuk melaksanakan tawaf yang sifatnya wajib, aku harus di bentengi oleh tiga orang sahabatku yaitu Uget di depanku serta Pak Yuli dan Pak Didin di samping kiri dan kananku. Dalam putaran tawaf yang tujuh kali itu aku harus berkali kali berhenti untuk ‘muntah di sebuah tas khusus yang selalu sudah aku persiapkan sebelumnya dan untuk sekedar beristirahat untuk menarik nafas dan mengumpulkan kekuatan guna  kembali berjalan lagi dan lagi, sementara dorongan arus tawaf yang tidak bisa dibendung oleh kekuatan tubuh seorang manusia yang terkuat  sekalipun, terkadang harus membuatku terdorong, terjatuh bahkan terinjak injak bersama tiga orang sahabatku yang mati matian melindungiku dengan terus mencengkram dan memegangku agar tidak terlepas, karena sejatinya aku selalu bertekat untuk bertawaf di sekitar bangunan Ka’bah dan terus berusaha untuk mendekati dan menyentuh bangunan yang di dirikan oleh Nabi Ibrahim itu pada ribuan tahun yang lalu.

Hari arafah pun segera tiba… Kami sedikit beruntung, karena setelah enam tahun yang ditunggu tunggu, puncak haji tahun ini pun jatuh pada hari Jum’at, dan aku berkesempatan mendapatkan haji besar yang sangat ditunggu tunggu oleh seluruh umat muslim dari segala penjuru dunia. HAJI AKBAR !

Dan malam itu kami sudah berbondong bondong dihantarkan ke padang pasir yang dalam pandangan mata bathinku adalah sebuah tempat untuk bermunajat serta intropeksi diri dimana segala hal yang pernah aku perbuat sepanjang hidupku didunia ini akan tergambar dengan jelas disana bahkan (konon) pembalasan Tuhan atas perbuatan perbuatan buruk yang pernah kita lakukan di dunia akan dengan mudah kita dapatkan ‘ganjaranya di sana, meskipun pada pagi harinya aku agak sedikit kecewa karena padang pasir yang selama ini aku impi-impikan itu hanyalah sebuah kawasan yang di batasi dengan pagar besi berpintu serta terdapat ribuan bahkan jutaan tenda tenda yang di lengkapi dengan pendingin ruangan.

Sebuah hal kecil yang tak terduga dan kelak menjadi sebuah hal (Cerita) yang besar pun menghampiri kami, sahabatku yang juga menjabat sebagai ketua regu meminta pendapatku tentang keinginanya menolong tiga (3) orang TKW yang tersesat. Sebenarnya mereka bukan tersesat, namun karena mereka menjalankan ibadah haji ketika sedang bekerja di Saudi Arabia sebagai pembantu rumah tangga, dan mereka tidak terdaftar sebagai jamaah haji resmi baik dari pemerintahan Saudi Arabia maupun Indonesia, maka mereka tidak memiliki tempat (tenda) di kawasan tersebut untuk sekedar berlindung dari teriknya padang arafah yang suhunya mencapai hampir 40 derajat celcius.

Aku dan pak Nas sahabatku pun langsung menyetujui agar tiga orang TKW yang berasal dari Jawa Timur itu dapat segera masuk ke dalam tenda kami yang menjadi semakin sempit saja, namun beberapa jamaah perempuan yang merasa paling terganggu karena tempatnya tergeser geser kemudian memprotes keras kepada sahabatku yang juga sebagai ketua regu itu. Akhirnya untuk menenangkan para jamaah kaum perempuan yang semakin sewot, aku beserta dua orang sahabatku Uget dan pak Nas harus membayar kesalahan kami dan harus rela berada di ujung pintu tenda, bahkan sahabatku Uget sang ketua regu, nyaris berada di luar pintu tenda tanpa ada karpet atau tikar yang mengalasi tempatnya bermunajat. Subhanallah…

DSCI0020

Masjidilharam pada tengah malam bersama juragan kerbau dari Tangerang.

Matahari mulai meninggi dan suhu udara yang mencapai 40° celcius mulai membakar jiwa kami dengan diiringi sebuah desas desus yang datangnya entah dari mana yang akhirnya mulai merembes masuk kedalam tenda tenda kami tanpa bisa diredam dan mulai menyebar dari mulut kemulut. Terlebih lagi semenjak malam hari kami di drop di padang tandus ini tidak ada sedikitpun suplai bahan makanan ataupun buah buahan yang kami terima, sehingga yang pada awalnya hanya sebuah desas desus yang di sampaikan dengan berbisik bisik kini meledak dengan sebuah kabar yang menggemparkan dan menggentarkan hati siapapun yang mendengarnya, yaitu : “SELURUH JAMAAH HAJI INDONESIA KELAPARAN”.

Bagai petir menyambar di siang bolong, semua orang terlihat panik, namun karena ini adalah hari yang begitu penting dalam rangkaian ibadah haji yang selama ini kami impi impikan itu maka kami mencoba tetap tenang dan menganggap bahwa ini adalah cobaan dari Allah SWT karena mungkin ketika di tanah air, kami selalu lalai ketika ada saudara atau kerabat muslim kami yang merintih pedih karena kelaparan. Intropeksi diri.

haji 3

Bersiap untuk pulang ke tanah air dari Madinatunabi yang dingin. Aku, Ust Saidi, Pak Nasrullah dan Uget.

Diam diam,,, tiga orang TKW yang kami selundupkan di dalam tenda kami itupun mendengar kabar tersebut, dan dengan telepon selular yang mereka miliki, mereka mengontak bos (majikan) mereka yang orang arab tulen guna menyampaikan kabar bahwa mereka ikut kelaparan di padang arafah dan tidak berapa lama kemudian, sebuah Jeep mewah double kabin berhenti persis di depan tenda kami dan mengantarkan tiga buah kuali besar berisi nasi kebuli yang nyaris tertutupi dengan taburan daging kambing sebesar besar kepalan tangan lelaki dewasa di atasnya. Dan meskipun rasa nasi kebuli tersebut agak terlalu kuat untuk ukuran lidah orang indonesia, namun dengan cepat hidangan yang masih hangat tersebut segera habis dan mengenyangkan kami yang berada dalam satu tenda itu. Subhanallah…

Jika anda pernah mendengar kabar berita bahwa pada musim haji tahun 2006 seluruh jamaah haji (reguler) Indonesia kelaparan,,, itu benar benar terjadi pada saat itu, namun tidak bagi kami karena pertolongan Tuhan melalui 3 orang TKW itu begitu nyata. Dan meskipun pihak katering yang bertanggung jawab terhadap makanan kami tetap mogok selama beberapa hari kemudian dan kami tidak diberikan jatah makan, namun rombongan kami tetap tidak merasakan sedikitpun kelaparan karena ketika di tiga hari berikutnya di kawasan Mina, kami dapat membeli makanan dan minuman sekehendak hati kami baik sekedar jajanan, roti ataupun nasi kebuli beserta lauk pauknya sampai buah buahan yang melimpah ruah karena kawasan Mina sudah bisa di katakan sebagai kawasan pemukiman permanen, meskipun juga hanya dihuni ketika musim haji berlangsung.

Dan kebaikan serta kelembutan hati sahabatku Uget menjadi sebuah cerita yang tak akan mudah aku lupakan bahkan untuk seumur hidupku, juga oleh beberapa orang jamaah perempuan yang berada dalam kelompok kami di mana pada awalnya mereka memprotes keras tindakan ketua regu kami dengan membuat kami sedikit berbantah bantahan yang sangat di larang dan di benci Allah SWT terutama ketika kami berada di batas suci padang Arafah.

BERSAMBUNG…

PS. Sepenggal tulisan ini aku persembahkan kepada sahabatku H. Muhammad Izzudin (Uget) yang beberapa waktu lalu telah menyelesaikan sidang disertasinya dengan sangat baik di Univ Padjajaran Bandung. Semoga keberkahan dan kemulyaan hidupnya sebagai salah seorang asisten MENDAGRI tetap membuat sahabatku yang satu ini selalu ‘membumi dan ‘memanusia. Amin.

Tulisan Terkait :

– Menunaikan Ibadah Haji (Salah Niat).

– Hari hari yang indah.

– MENANTI.

“Semua Tulisan Oce Kojiro”

Comments
  1. Saidi says:

    Tak ada sebuah kata yang pantas untuk mengomentari tulisan ini kecuali SUBHANALLOH……….

  2. Ella N says:

    Subhanallah, sampe ga kuat netesin air mata, membaca ceritanya. salut ama ocit. Makasih banyak buat Uget dan rekan. makasih.

  3. Evi Bachtiar says:

    Subhanallah….terharu banget baca nya mas..Labaik Allahuma Labbaik….

  4. Kurniadi says:

    Allah berikanlah yang terbaik kepada Kang Oce

  5. sulastri says:

    SIANG BANG OCE…! SEMOGA ABANG SELALU DI BERI KEKUATAN DAN KESEHATAN OLEH “ALLOH SWT”. sebelum difonis leokimia mas imam berkata padaku,setelah rumah yang kami buat selesai maka kami berniat untuk menabung demi mewujutkan angan-angan kami untuk menunaikan ibadah haji bersama. tapi rupanya Alloh berkehendak lain belum genap 1 tahun kami menempati rumah yang kami idam2kan mas imam difonis leokimia dan difonis oleh dokter cuma bertahan 3 bulan saja. rupanya Alloh berkehendak lain lagi Mas imam mampu bertahan 3 tahun. dan rupanya Alloh mewujudkan impian mas imam dengan mengambilnya tepatnya tgl 16 oktober 2013 kemarin bertepatan puncak ibadah haji dilaksanakan walaupun tanpa diriku. Semoga kepergian beliau Khusnul Khotimah dan mendapatkan tempat yang sebaik-baiknaya dan dikelompokkan bersama orang-orang yan sholeh. AMIN YAROBBAL’ALAMIN. SALAM UNTUK MBAK SUHARNI…

  6. sulastri says:

    dan semoga waktu 3 tahun itu cukup untuk memperbaiki diri sebagai upaya untuk mempersiapkan diri untuk menghadap NYA. Amin yarobbal’alamin

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s