Ruang (2)

Posted: October 11, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

     “Masih ingat ceritaku tentang “Ruang” ?

     “Ya, sebuah ruangan kecil yang berada dalam relung hatiku dan selalu aku gunakan sebagai tempat ‘pelarianku jika mendapati masalah masalah dalam kehidupan termasuk masalah dengan penyakitku ini.

Berbekal tekad yang kuat untuk menghadapi segala permasalahan permasalahan dalam hidupku yang entah tinggal berapa lama lagi ini, aku mulai membongkar pintu besar yang menjadi jalan masuk satu satunya menuju ruangan tersebut, serta merubuhkan empat buah tembok yang mengelilingi dan membatasi ruang yang hanya ada dalam angan anganku itu.

Dengan kedua tanganku pula aku membuang seluruh benda benda kenangan yang berada didalamnya karena benda benda tersebut kerap menyeretku kemasa lalu sehingga membuatku selalu hidup dalam bayang bayang masa lalu yang sangat indah dan tidak berani untuk realistis dalam menghadapi kenyataan hidup saat ini, serta tidak memiliki keberanian untuk tetap ‘menginjak bumi.

Biasanya, setiap datang sebuah permasalahan yang sebenarnya bisa saja aku selesaikan dengan mudah jika aku mau, aku selalu lebih memilih bersembunyi dan berlama lama didalam ruang tersebut dan membiarkan permasalahan tersebut selesai dengan sendirinya atau diselesaikan oleh ‘waktu.

Untuk menggantikan ruang yang dahulu selalu aku kunjungi setiap hari itu, aku kini membuat sebuah ruang baru yang nyata dan tidak dibatasi oleh tembok yang mengelilinginya serta tidak pula dijaga oleh pintu besar nan kokoh seperti ruang lamaku itu. Dan ruang itupun terbuka untuk siapapun yang ingin mengunjunginya tak terkecuali para hansip yang bertugas menjaga keamanan daerah tempat tinggalku untuk sekedar menghangatkan badan dan membuat kopi  disela sela tugas rutin mereka berkeliling kampung untuk menjaga keamanan pada malam hari.

Ruang tersebut bahkan tidak diplester dan tanpa atap yang menaunginya dimana hanya ada sebuah ‘perapian kecil (Tungku) dan beberapa batang kayu untuk aku duduki bersama kedua anak dan istriku pada waktu waktu tertentu. Ruang itu juga menjadi tempat berkumpul sahabat sahabatku untuk bercengkrama dan bercanda atau hanya sekedar duduk duduk disekitar perapian yang hampir setiap hari aku nyalakan meskipun hanya sekedar untuk memasak air atau memanggang ayam dan ikan lele yang kami pancing dari kolam yang berada dihalaman belakang rumahku.

Meskipun ‘ruang yang menjadi tempat faforitku ini begitu sederhana, namun tempat itu sudah cukup menghapus kerinduanku dan keinginanku untuk hidup didesa yang masih sepi dan sunyi serta masih memasak dengan menggunakan kayu bakar dengan ditemani oleh suara jangkrik dan semilir hembusan angin serta gemerlap bulan dan bintang pada malam hari.

Wassalam.

Tulisan Terkait :
– RUANG.
– Semoga.
– Menanti.

Advertisements
Comments
  1. kakaakin says:

    Ruangan itu telah berubah status, dari ‘private’ menjadi ‘public’ ya… 🙂
    Dan ayam bakarnya sangat menggugah 😀

  2. madya says:

    wah ruangan yg nyamah sekali itu sobb,,,mantap
    insya allah pengen berkunjung klo memungkinkan & diizinkan sob,,^^

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s