Beri aku petunjukMu, Yaa Allah…

Posted: April 25, 2010 in Uncategorized
Tags: , , , , , , ,

Sore sepulang dari menghadiri  acara “Gathering Survivor” yang diadakan oleh CISC di RSCM, aku bertemu dengan seorang tetanggaku yang beberapa bulan lalu hanya tergeletak saja ditempat tidur, karena menderita kanker tulang.Aku menyapanya dan seketika itu pula kami sudah terlibat dalam perbincangan serius seperti dua orang sahabat lama yang telah sekian waktu tidak berjumpa dan sama sama mengidap penyakit yang banyak membuat orang bergidik serta memalingkan wajahnya dari kami, yaitu KANKER.

Usia kami sangat jauh bereda, namun kanker menyatukan hati kami hingga tidak tampak ada perbedaan usia bagi kami para penderitanya, meskipun usianya hanya lebih tua beberapa tahun dari putra tertuaku.

Muhammad Ali (bukan nama sebenarnya) penderita kanker tulang, dia menceritakan kondisi terakhirnya kepadaku dengan semangat, dia bahkan menunjukkan lutut kakinya yang sudah mulai mengecil dengan mengangkat celana panjangnya. Dengan bangganya dia menggerak gerakkan kakinya dan menunjukkan bahwa dia bisa  berjalan jalan tanpa bantuan dari siapapun dan alat bantu apapun, seperti tongkat kayu ataupun besi. Padahal, ketika pada  bulan pebruari lalu aku menjenguknya, kondisi kakinya (lututnya) sudah sangat parah sekali, besar dan mengeras diseputaran tulang bawah lutut dan pada tengah serta atas lututnya juga ikut besar membengkak berwarna merah kehitaman.

Aku begitu takjub dengan cepatnya kondisi si Ali berubah, karena aku mengetahui bahwa selama ini keluarga Muhammad Ali tidak mau meneruskan berobat kedokter, karena menurut dokter, kaki tetangaku ini harus segera dioperasi dan di sinar/radiasi pada bulan Nopember tahun lalu, maka aku spontan bertanya kepadanya, Berobat kemana Li ?

Dia pun memberitahukan tempat dimana dia berobat hingga mendapatkan kondisi seperti ini, dan menurutnya dia baru satu kali datang ketempatnya berobat dan akan datang lagi hingga tiga kali, atau sampai kakinya benar benar sembuh.

Aku sangat takjub, bahkan lebih takjub lagi ketika dia menceritakan bahwa dia berobat bersama sama dengan salah seorang sahabat lamaku yang beberapa waktu lalu aku ceritakan pada artikel ‘ Sepotong doa buat sahabat‘ yang menderita kanker nasofaring stadium lanjut, dan kini kondisinya setelah satu kali berobat sudah lebih baik dengan pembengkakan yang sudah relatif mengecil serta sudah dapat sedikit berjalan jalan dan tidur dengan pulas tanpa merasa sakit lagi.

Sepanjang sore pikiranku terus berkecamuk, dari rasa penasaran, takjub, sampai sedikit rasa was was. Hingga setelah solat magrib  berjamaah di mushollah, aku langkahkan kakiku menuju rumah orang tua Ali yang tak lain adalah seorang ketua RT di lingkunganku. Tanpa banyak basa asi aku langsung menanyakan perihal pengobatan anaknya yang langsung dijawab dengan penuh semangat yang mengebu gebu. Bahkan dengan sangat detil dia menunjukkan dimana tempat terapinya serta mengajakku ikut jika minggu depan dia hendak kesana lagi untuk terapi lanjutan untuk Muhammad Ali anaknya, beserta salah seorang warganya yang juga sahabatku yaitu Doni yang menderita kanker nasofaring.

Dan terjadilah percakapan dengan logat betawi yang kental seperti ini:

Aku : Terapinya di apain ‘te ?

Rt : Disedot ji…

Aku : Disedot,,, Pake apa ‘te ?

Rt : Pake mulut ji…!

Aku : Pake mulut ?

Rt : Buseet ji,,, itu si Doni, disedot isinya darah ji. Kalo si Ali isinya nanah ji…

Aku : Di belek ‘te (sayat pake pisau) ?

Rt : Kaga ji,,, Sedot aje langsung kaga pake luka, trus di ludahin deh, cuh,,, nanah ji…!

Aku : Ooo… Ya udah ‘te, gue pamit dulu ya…

Rt : Ya udah ji,,, Kabarin ya kalo mau ikut !

Aku : Iya,,, iya te, salamualaikuum…. (Akupun berlalu)

Aku benar benar mual, hingga ketika sampai dirumah aku minta dibuatkan secangkir kopi pada istriku dan memintanya untuk membantu menghabiskan kopiku jika aku tidak sanggup menghabiskannya nanti.

Akupun tidak ingin membahas lebih lanjut hasil pertemuanku dengan pak Rt apalagi untuk ikut bersama sama berobat di tempat pengobatan alternatif yang menurut pak Rt sangat ramai sekali, hingga setiap paginya harus dibatasi dengan 200 orang pasien saja, dan sore hari dengan 100 orang pasien. Besaran biayanya pun tidak terlalu mahal, hanya dipatok sebesar 60.000 Rupiah sekali berobat dan sudah termasuk obat yang berupa minyak untuk dioleskan pada bagian yang sakit, dan lokasinya pun relatif dekat dengan tempat tinggalku yaitu berada di daerah Jakarta Selatan.

Malam harinya aku bersimpuh dan berdoa, semoga Allah memberikan aku petunjuknya serta mengeraskan hatiku agar aku tidak ikut tergiur dari keinginan sembuh dari penggobatan seperti itu.

Beri aku petunjukMu, Yaa,,, Allah.

Wassalam.

PS:

Saya menghargai jika ada yang berpendapat berbeda dengan saya, namun,,, ini adalah pendapat saya pribadi dan karena keterbatasan pengetahuan saya dalam ilmu agama, serta menjaga ketentraman ummat, maka saya tidak ingin ada pertanyaan dan diskusi tentang dasar hukum (Agama) pengobatan seperti ini. Trimakasih.

Artikel Terkait :

– SICK MANAGEMENT
– Obat Leukemia Menghilang
– Hari Hari Terakhir Yang Indah

Advertisements
Comments
  1. saracens says:

    Setuju !
    Pengobatan tsb diatas sudah jelas menggunakan kekuatan mahluk halus atau jin.
    Kalaupun bisa sembuh, berapa lama kita akan bisa hidup? 60 tahun? atau 100 tahun?
    Toh ahirnya tubuh ini akan binasa, sedangkan jika pengobatan yg kita lakukan tidak mendapatkan rido Allah… Nauzubillah min zalik

  2. Sahabat Yogya says:

    Aku setuju denganmu Oce dan juga Saracens.
    Bicara tentang pengobatan, kita selalu dihadapkan dengan pilihan. Secara garis besar kita akan bicara tentang Medis dan Alternatif. Meski dalam masyarakat Medis pun bercabang, tak kalah banyaknya dengan cabang dari sebuah pilihan Alternatif.
    Lepas dari apapun pilihan teman kita, saya sangat MENGHARGAI. Mengapa saya menghargai pilihan mereka meski tidak sejalan dan sefaham dengan saya? Banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya @Minimnya Informasi & @Minimnya Financial. Dua faktor itupun bercabang hingga memasuki Informasi dan pemahaman spiritual seseorang. Pertanyaannya adalah “Siapa yang bertanggung jawab dalam hal konsekwensi atas sebuah pilihan pengobatan?” Tentunya PRIBADI seseorang. Baik secara fisik ataupun psikis yang didalamnya termuat konsekwensi spiritual seseorang.
    Sorry jadi ngelantur kemana-mana. Intinya, BLOG INI dapat menjadi sumber informasi yang baik, sarana berbagi dan saling mengingatkan, memompakan semangat dan mengerem hasrat yang mungkin tak terkendali…….SALUT utukmu Sahabat. Ayok terus menulis…menulis….menulis…….
    Ini tulisan bagus punya Pakde Omri….
    http://kesehatan.kompasiana.com/2010/04/16/dua-faham-kesehatan-yang-perlu-diketahui/-12

  3. Emmy says:

    Yth bpk Oce
    Setelah explor blog ini, bny point penting dan bermanfaat skl bagi penderita leukemia dan kanker jg, tetapi tersebar di bbrp artikel yg sdh terlalu banyk komentnya. Sebaiknya dibuatkan jendela khusus utk tanya jwb ttg leukemia,kanker dsb.
    Thanxs

  4. kakaakin says:

    Astagfirullah…
    Syukurlah dirimu tak tergiur dengan pengobatan seperti itu.
    Semoga Oce terus berikhtiar dan selalu mendekatkan diri pada Allah Ta’ala 🙂

  5. Minta dan bermohonlah pada Allah,Pak.Yakinlah apa pun (ya dibolehkan agama) cara pengobatannya klo itu baik ga apa2 dilakukan…tho ga dimakan juga….

  6. arali2008 says:

    sabar yach bro…Allah Swt memberikan penyakit lengkap dengan obatnya….

  7. yun says:

    nice blog. Keep on fighting bro.

    Yuniko

  8. Saya belum begitu faham mengenai hukum pengibatan pak, namun ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi saya yang sangat awam dengan hukum pengobatan secara agama. terimakasih atas penjelasannya

    Salam Hangat. Semoga kita semua di berikan kesehatan oleh Allah SWT. Sehingga dapat terus menuis dan berbagi

  9. guru satap says:

    saya jadi ingat ketika abunawas dimintai doa sama temannya yang sakit, mas Oce..
    waktu itu abunawas berdoa, “ya Tuhan, sembuhkanlah sahabatku ini, Wahai setan sembuhkanlah temanku ini.”
    Si peminta doa bingung dan kemudian bertanya, “mengapa kamu meminta kepada Tuhan dan juga setan?”
    Abu menjawab, “Orang dalam kondisi sepertimu selalu akan memilih dua alternatif. Jika Tuhan tak memberikan kesembuhan, maka kepada setanpun tak masalah untuk mencoba meminta.”

    Semoga kita tak masuk dalam golongan yang beralternatif meminta kepada setan ya, mas Oce…

    Salam.

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s