Pengobatan Leukemia ( ALL ) Pada Anak.

Posted: September 9, 2014 in Uncategorized
Tags: , , ,

Pengobatan leukemia tipe ALL di bagi dalam pengobatan suportif dan spesifik, yaitu pengobatan jangka panjang dengan menggunakan obat-obat sitostatika dengan tujuan membasmi sel-sel leukemia. Walau hingga sekarang belum di temukan obat yang hanya mematikan sel leukemia tanpa merusak sel normal, penggunaan sitostatika memberi hasil yang sangat menggembirakan pada pengobatan leukemia.

Walaupun kesuksesan pengobatan ini telah banyak di laporkan di negara-negara maju, namun pengobatan ALL yang kompleks dan mahal menjadi hambatan yang utama bagi para penderita di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, karena hanya rumah sakit di kota kota besar saja yang bisa menjalankan prosedur pengobatan ini sehingga banyak penderita dari berbagai pelosok negri yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menjalankan pengobatan.

keterbatasan informasi, SDM sampai sarana dan prasarana menjadi alasan klasik yang menyebabkan menumpuknya penderita hanya di beberapa rumah sakit di ibu kota, serta kota kota besar lainya di Indonesia seperti RSKD dan RSCM di Jakarta, RSHS di Bandung dan RS KARYADI dan RS Dr SOETOMO di Semarang dan Surabaya.

l15 - CopyPengobatan ALL meliputi beberapa tahapan yaitu : induksi remisi, konsolidasi, intensifikasi, pengobatan susunan saraf pusat, dan rumatan.
Dengan perkecualian pada leukemia sel B matur yang hanya memerlukan terapi jangka pendek namun intensif, semua anak dengan ALL mendapat pengobatan dalam jangka waktu 2 hingga 3 tahun.

Induksi remisi.

Dalam tahap ini sitostatika diberikan dengan tujuan memusnahkan semua atau sebanyak mungkin sel leukemia agar terjadi remisi, terjadi penurunan jumlah sel-sel leukemia sampai tidak terdeteksi secara klinis maupun laboratorium (limfoblas sumsum tulang < 5%) yang di tandai dengan hilangnya gejala klinis dari penyakit serta gambaran darah tepi menjadi normal.

a23Tahap induksi menggunakan kortikosteroid (prednison atau deksametason), vinkristin, L-Asparaginase. Pengobatan pada fase ini biasanya berlangsung sekitar 6 minggu dengan angka remisi rata-rata 97%. Remisi dianggap berhasil bila secara klinis penderita membaik, keadaan hematologis kembali normal dan pada pemeriksaan aspirasi sumsum tulang di dapatkan keadaan normoselular dengan sel blas kurang dari 5%.

Konsolidasi atau Intensifikasi.

Segera setelah penderita mengalami pemulihan baik klinis maupun laboratoris dan mencapai remisi komplit, terapi fase intensifikasi dapat dimulai. Hal ini dilakukan atas dasar penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa apabila terapi di hentikan setelah induksi remisi maka segera terjadi relaps (kambuh).
Tujuan dari tahap ini adalah menurunkan keberadaan dan menghilangkan sel pokok (blast) leukemia dari tubuh penderita terutama yang terdapat pada sumsum tulang. Obat-obatan yang biasanya di berikan pada tahap ini adalah sitarabin, metotreksat dosis tinggi dengan leukovorin, asparaginase, siklofosfamid, epipodofillotoksin, merkaptopurin, tioguanin, vinkristin, glukokortikoid dan doksorubisin.

Pengobatan susunan saraf pusat.

Apabila terapi pencegahan pada susunan saraf pusat tidak di lakukan pada pengobatan ALL maka lebih dari 40% anak akan mengalami relaps susunan saraf pusat. Beberapa pengobatan susunan saraf pusat telah dipakai, termasuk pengobatan intratekal, obat sistemik dengan dosis tinggi atau sedang, radiasi kraniospinal.

Rumatan atau lanjutan.

c25Tidak seperti keganasan yang lain, pada ALL di perlukan waktu yang panjang untuk mempertahankan kesembuhan. Hal ini di tujukan untuk membunuh sel blast dan memelihara sel sumsum tulang yang normal di samping untuk mempertahankan respon imun penderita . Pada umumnya pengobatan ini berlangsung selama 2 sampai 3 tahun. Obat-obatan yang di pakai biasanya antimetabolit seperti merkaptopurin yang di berikan setiap hari di sertai metotreksat dosis mingguan. Pemberian prednison dan vinkristin secara pulse juga sering di berikan karena membantu menurunkan angka relaps.

Penanganan suportif.

b30Penanganan ini tidak kalah pentingnya dari pengobatan spesifik, sebaiknya di lakukan sebelum dan selama pemakaian sitostatika. Pada kunjungan awal penderita biasanya datang dengan anemia dan panas badan, usaha pertama yang harus di lakukan adalah menaikkan kadar hemoglobin dengan pemberian transfusi darah. Panas badan umumnya di anggap di sebabkan oleh infeksi. Sambil mencari penyebab panas, antibiotika dengan spektrum luas dengan dosis tinggi dapat di beri. Selama perjalanan penyakit sering di butuhkan tindakan-tindakan seperti isolasi protektif, transfusi eritrosit, trombosit dan leukosit, serta pemberian obat terhadap infeksi bakteri, jamur maupun virus.

Pencegahan terhadap infeksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya yang termudah adalah dengan memberikan pengertian pada penderita dan keluarganya agar selalu mencuci tangan, mandi setiap hari dan menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit. Selama dalam tahap pengobatan induksi dan intensifikasi sebaiknya juga menghindari memakan buah atau sayur yang mentah maupun makanan lain yang tidak di pasteurisasi.

a3Profilaksis antibiotik untuk mencegah pneumonia akibat Pneumocystitis carinii dapat dilakukan dengan pemberian trimetroprim / sulfametoksazol selama 3 hari berturut-turut dalam seminggu. Selama pemberian glukokortikoid perlu di berikan terapi profilaksis terhadap candidiasis oral atau esophageal dengan myocostatin atau klotrimazol.

Penderita juga perlu mendapat imunisasi hepatitis, pnemococcal dan Haemophilus influenzae tipe B. Selain itu vaksin influenza juga perlu di berikan pada penderita yang sedang mendapat pengobatan. Akan tetapi pemberian vaksinasi dengan menggunakan kuman atau virus hidup seperti vaksin polio oral, varisela dan mump measlesrubella (MMR), harus di hindari.

Penghentian pengobatan.

d2Berdasarkan pengalaman dan penelitian yang terdahulu, dikatakan bahwa setelah pengobatan rumatan selama 2 tahun, kemoterapi dapat di hentikan bila selama itu penderita tidak pernah kambuh penyakitnya. Bila setelah itu penderita tetap dalam keadaan remisi selama 4-5 tahun maka anak dapat di nyatakan  sembuh.
Tidak selalu pengobatan berhasil memuaskan karena dalam tahap pengobatan rumatan atau setelah terapi di hentikan leukemia dapat kambuh (relaps). Bila hal ini terjadi maka pengobatan harus di mulai lagi  dari awal.

Demikian semoga bermanfaat.

Wassalam.

Artikel Terkait :

– Obat Leukemia Menghilang
– Glivec vs Hydrea
– ABOUT ME.

“Semua Tulisan Oce Kojiro”

Comments
  1. evie lamag says:

    Apakabar mas oce…lama sekali saya tidak tidak denger kabar mas oce, smg mas oce semakn membaik.

  2. Assalmu’alaikum …mas Oce ..semoga sehat dan tetap lah semangat karena dirimu mampu beri manfaat dan karenamu banyak yang mulai tau ,bagaimana,kemana ,siapa,dan apa itu LEUKEMIA
    senyum indah walau lelah mulai kita rasakan … Allaoh senantiasa bersamu mas🙂

  3. anik vero says:

    sip, hwaa itu ada foto dheo :* jadi kangen. btw kapan ya bisa ngikut jejak sahabatku ini untuk punya blog sendiri hii. terimakasih sahabat kita berbagi semangat🙂

  4. reva says:

    Bagaimana kans kesembuhan bagi pasien yg relaps dan apakah betul bahwa lebih banyak yg lari ke pengobatan alternatip ketimbang mengulang kemoterapi yg tidak menjanjikan kesembuhanitu ?

  5. ocekojiro says:

    @Evie.
    Alhamdulillah mba,,, baik dan terimakasih atas doanya, semoga mba dan keluarga terutama suaminya yg CML juga selalu dlm lindunganNya, amiin.

    @Shanum S
    Walaikum salam wr,,, Wah dokter kita yg satu ini masih juga ceria meskipun telah bertahun tahun berbagi tempat dg leukemia. cobalah longok2 kesini,,, jangan keenakan terus di S-pore, ntar lupa rasanya makan tahu dan tempe hehe,,,

    @Vero
    Wah wah, ini dia owner “rumah kita” yg cantik itu,,, gak usah ngurusin blog picisan mbak,,, nanti anak2 di rumah kita kehilangan induknya hehehe,,,,

    @Reva
    Memang kemoterapy untuk mereka yg relaps lebih berat dan beresiko jika dibandingkan dengan kemo yg pertama, namun kesempatannya untuk sukses atau sembuh juga tetap ada dan terbilang tinggi.
    Kenyataanya memang banyak dari mereka yg relaps berbalik arah atau bahasa sehari2nya sy sebut dg melarikan diri pada pengobatan alternatip, namun,,, seberapa jauh dia bisa lari ?
    Sepanjang pengamatan sy selama ini, tidak ada seorangpun dari mereka yang melarikan diri itu yang bisa bertahan HANYA dengan mengandalkan pengobatan alternatip saja. Bukan hanya yg melarikann diri saja,,, bahkan mereka yang sejak awal sudah menjalani pengobatan alternatip pun juga tidak akan bisa lari jauh tanpa TERKEJAR oleh keganasan leukemia tipe ALL ini jika pengobatan alternatipnya tidak dibarengi dengan pengobatan medik.
    Saya bukanya mau menakut nakuti anda atau siapapun atau bahkan mau mendahului kehendak Tuhan, tetapi kenyataanya memang seperti itu,,, ini bukan penyakit “ecek ecek, ini leukemia !

  6. evie lamag says:

    Pagi mas, sy mohon info dunk..apa bener glivec yg generik uda ngilang dr pabriknya dr di indonesia…krn suamiku uda g lg minum obat 2 minggu ini, alasan rmh sakit pabrik glivex generik gak lg beroperasi, mksih mas oce

  7. ocekojiro says:

    Lho,,, ini mb Evie yang di Papua kan ?
    Bukanya selama ini mb Evie dapet glivec menggunakan BPJS dan program YKI ?
    Jika benar demikian, obat yang dikonsumsi selama ini bukanlah obat generik,,, tetapi obat paten dengan merek “Gleevec” yg dibuat oleh novartis. Lagian sebenarnya di Indonesia tidak pernah beredar obat (glivec) versi generik kecuali jika kita membawanya sendiri dari India atau Kanada.

    Duh,,, jangan sampai stop obat mba,,, karena meskipun kelihatanya baik baik saja tetapi sebenarnya sangat berbahaya sekali dan yg sudah2 penyakit akan menyerang lebih ganas jika obat kita hentikan. Minta no tlp yg dipakai sekarang dong mbak,,,? dan kalo ada yg WA nya aktip ya,,, trims.

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s