Hancurnya Dragon Ball

Posted: June 12, 2012 in Uncategorized
Tags: , , , , ,

Masih ingat ceritaku tentang Dragon Ball ?

Ya,,, seperti yang pernah kuceritakan pada tulisan terdahuluku, benda bulat mengkilat yang amat aku kagumi itu adalah sebuah bola yang terbuat dari tanah kuburan yang aku ambil dari bagian dalam pusara ibundaku. Tanah itu aku dapatkan dengan cara memecahkan sebuah bongkahan tanah merah yang dipergunakan sebagai ‘bantal pengganjal jenasah ibundaku yang tersisa. Tanah tersebut aku genggam kuat kuat dalam kepalan tanganku ketika aku mengumandangkan adzan didalam liang lahat ibundaku pada saat menguburkannya. Dan setelah melalui proses yang cukup panjang jadilah tanah tersebut seperti sebuah bola dan aku beri nama ‘DRAGON BALL.

Bola itu memiliki nilai tersendiri dalam hidupku dan begitu berharganya hingga sempat akan aku buatkan sebuah kerangka dari bahan perak yang melingkari dan melindungi bola tersebut sehingga menjadi lebih indah dan menjelma menjadi sebuah perhiasan berbentuk bandul yang memiliki nilai seni tinggi serta layak untuk disimpan dan dikenang.

Bola kecil berwarna coklat itu masih terlihat mengkilat meskipun kerap kugenggam sepanjang malam dengan harapan aku bisa bertemu dengan ibundaku walau hanya dalam mimpi, namun tak pernah sekalipun aku bisa mewujudkan keinginanku itu meskipun sebelum tidur aku selalu mengingat ingat kelembutan dan kebaikan hati ibundaku terutama ketika beliau menungguku disaat aku sakit.

Pada hari sabtu tanggal 9 Juny 2012 keinginan ayahku untuk menikah sudah tidak bisa ditahan lagi, dan meskipun aku beserta beberapa orang adikku ada yang tidak menyetujuinya, namun dengan dukungan dua orang kakak tertuaku yang terus mensupport agar ayahku mendapatkan seorang pendamping hidup guna mengurus dan menemaninya di hari tuanya itu, maka pernikahan tersebut tetap terlaksana meskipun dengan diiringi protes dan derai air mata salah seorang adik perempuanku sehingga menyulut tangis pilu beberapa kerabatku yang lain dan membuat acara pernikahan itu semakin pilu.

Meskipun pada akhirnya aku mendukung keputusan ayahku untuk menikah lagi, namun sebagai tanda protes mengapa pernikahan itu tetap dilaksanakan tepat satu hari sebelum satu tahun meninggalkan ibundaku, maka aku membawa bola tanah liat yang terasa dingin jika aku genggam itu. Dan ketika adik perempuanku yang sedang menagis didalam kamar melihatku menggenggam bola tersebut, diapun merebut bola tersebut dari tanganku dan menggenggamnya erat erat sambil menangis histeris memanggil manggil ibundaku yang biasa dipanggil mamah.
“Mammaaah….

Adikku yang paling bontot itu memang sudah tahu cerita rahasiaku tentang bola tanah yang aku miliki itu, sehingga dua orang kerabatku yang ikut menemani kami didalam kamar sedikit binggung melihat tingkah kami berdua memperlakukan bola tersebut dan dengan rasa penasaran mereka bertanya tentang bola yang ukurannya sangat pas jika digenggam itu.

Akupun menerangkan dengan singkat perihal bola tersebut kepada mereka berdua dan mereka begitu tercengang mendengar ceritaku itu dan ikut mengagumi bola mengkilat itu sembari ikut menggenggam serta menimang nimangnya.

Kok bisa keras seperti batu akik sih,,, ujar salah seorang kerabatku itu sembari menekan dengan kedua telapak tangannya dengan kuat untuk membuktikan bahwa bola tanah itu benar benar keras. Praak,,, tiba tiba bola tersebut pecah berantakan ditangan kerabatku itu yang diiringi dengan pekik kami berempat, bahkan tanpa aku sadari aku memekik keras dengan memanggil ibundaku “Mamaah…!

Entah ini suatu kebetulan yang disengaja atau tidak, karena tepat ketika bola tanah itu pecah, diluar kamar tempat kami berkumpul itu sedang berlangsung pembacaan ikrar akad nikah dari ayahku yang menikahi seorang janda beranak satu didepan penghulu dari Kantor Urusan Agama kedcamatan Ciputat yang di undang untuk datang kerumah kami dan menikahkan ayahku secara resmi didepan kedua keluarga dan kerabat dekat kami masing masing.

Meskipun pada awalnya aku sangat syok dan terkejut sekali karena benda yang sangat aku sayangi itu pecah berantakan, namun aku sangat tidak tega melihat kerabatku yang memecahkan bola tersebut begitu merasa bersalah sehingga berkali kali harus meminta maaf sambil sedikit terisak isak. Dan walaupun didalam hati aku sangat menyesal, namun aku menganggap pecahnya tanah itu adalah pertolongan dari Allah juga yang diberikan kepadaku sebagai bukti bahwa Allah masih sayang kepadaku dengan jalan menunjukkan bahwa memang sudah selayaknya benda yang bisa membuatku menjadi “musyrik dan tanpa sadar menyekutukan Allah itu dihancurkan dan dibuang.

Hari sudah gelap, dan sisa sisa bongkahan tanah merah yang masih mengeras itu aku lemparkan jauh jauh ke halaman samping rumah ayahku yang masih cukup luas itu. Akupun berlalu dari tempat itu dengan tanpa menoleh lagi kebelakang dan tidak lagi berharap agar ibundaku yang sudah tenang di alam penantiannya itu bisa datang menemuiku baik secara langsung maupun hanya dalam mimpi, karena sejak awal sebenarnya aku sudah sangat memahami bahwa pada dasarnya seorang manusia yang telah meninggal, sudah terputus segala urusannya dengan dunia ini kecuali pada tiga hal, yaitu Shodaqoh jariayah, Ilmu yang bermanfaat dan Anak yang sholeh yang mau mendoakannya.

Wassalam.

Tulisan Terkait :
– Tangisku Untuk Bunda.
– DRAGON BALL.
– Kangen Bunda.

Advertisements

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s