Hallo… Rs Fatmawati…

Posted: February 16, 2010 in Uncategorized
Tags: , ,

Hari selasa 16 pebruary 2010 aku mengantar putri semata wayangku utk membersihkan telinga di poli THT Rs fatmawati setelah minggu sebelumya datang dengan keluhan agak sulit mendengar.
Setelah mengisi buku status, dokter menyerahkan kepada suster untuk melakukan proses pembersihan telinga dengan cara menyemprotkan air hangat yang dicampur cairan berwarna ungu kedalam lobang telingga puteriku dengan menggunakan sebuah tabung suntik berukuran besar yang pada ujungnya dipasangkan sebuah selang kecil yang keras dan agak bengkok sepanjang dua centimeter.

Telingga kanan selesai relatif singkat karena selama seminggu telah aku teteskan obat pelembut kotoran telinga yang diresepkan oleh dokter seminggu sebelumnya. Giliran telinga kiri, sang suster bekerja sambil memarahi dua pelajar perawat yang sedang praktek disana untuk segera memperhatikan tindakannya agar dilihat dengan seksama. Tiba tiba jemari tangan kanannya terlepas dari tabung suntikan yang sedang dia tekan dan ujung selang masuk menghujam kedalam telinga putri kecilku.

Aaauuu…
Eh… maaf ya deek… gak papa kok, gak papa kok…. gak papa yaa…
Berkali kali sang suster itu mencoba menenangkan anak saya yang terus menangis dalam pelukanku dengan mengatakan tidak apa apa kok, cuma pelan saja kok… katanya berkali kali, seraya menghentikan proses pembersihan dan menyuruh datang lagi enam bulan lagi untuk rutin dibersihkan secara berkala dan profesional.

Dengan sedikit memaksa aku meminta agar dokter segera melihat kondisi telinga kiri anak saya yang pada akhirnya dikabulkan juga oleh suster tersebut serta diantar menemui dokter THT yang sedang berpraktek diruang 204 dari pintu dalam.
Setelah dilihat menggunakan semacam teropong kecil berlampu, ternyata benar ada luka diseputar gendang telinga kiri anak saya yang mengeluarkan darah. Kemudian dokter tsb memberikan resep untuk aku tebus dan mempersilahkan aku untuk membayar ongkos proses pembersihan yang belum selesai itu sebesar Rp 30.500, setelah sebelumnya membayar ongkos dokter sebesar Rp 64.000. Dalam hati aku berkata, Sabaar…. sabaar…
Subhanallah…

Aku masih bisa menahan emosiku ketika membayar kewajibanku di kasir poli THT lantai 3 tersebut, namun hingga pembayaran selesai aku lakukan, tak ada sedikitpun ucapan permintaan maaf kepadaku dari suster yang telah membuat putri kecilku terus menangis menahan sakit.
Jangankan segelas air putih, satu lembar tissu pun mereka tidak punya, kelewatan…
Jangankan sebuah permintaan maaf, kelalaian itu pun tak pernah diakui oleh sang suster yang sudah cukup senior dan berumur tersebut.
Bahkan dokter pun malah memberikan resep untuk segera aku tebus dan menyuruhnya datang lagi untuk periksa jika dikemudian hari terjadi infeksi pada telinga kiri anak saya.

Gila… Aku mulai emosi.
Akupun komplain karena ini adalah kesalahan suster, lalu kenapa harus aku juga yang menebus resep.
Komplainku tidak mendapat tanggapan dari dokter THT tsb dan suster yang menangani anakku, dan mengatakan bahwa hal seperti ini bisa saja terjadi pada siapapun dan dimanapun juga !.

Aku mulai mendidih dan siap berkelahi dengan siapapun pegawai pria di loket THT yang lebih memilih menghindar dariku yang sudah meradang dan membuat kegaduhan, sang suster pun ahirnya melunak dan bersedia menebuskan obat yang diresepkan dokter dengan biaya dari kantong pribadinya, namun… yang aku permasalahkan bukanlah harga obat yang hanya sekitar Rp 5000, untuk sebotol kecil obat tetes telinga generik bermerek OTOPRAF, tetapi lebih dari itu yaitu kesalahannya harus diakui dan ada sedikit permintaan maaf yang tulus, itu saja kok…

Namun, karena sang suster tersebut tetap ngotot dan tetap tidak merasa berbuat salah, membuat aku akhirnya memutuskan untuk melapor ke bagian PENGADUAN RAWAT JALAN yang terletak dilantai dasar gedung utama, ruang loket no 13.

Alhamdulillah…
Emosiku langsung sirna ketika petugas manajemen Rs Fatmawati menemuiku dan menanggapi dengan sangat simpatik semua keluhan dan pengaduan saya, bahkan saya pun tidak terlalu mempermasalahkan ketika sang suster yang lalai itu tidak bersedia datang ke pertemuan kami di ruang manajemen, entah karena alasan apa, namun dengan di wakili oleh suster kepala poli THT yaitu Siti Jahara yang meminta maaf serta mengakui kelalaian anak buahnya serta berjanji akan bertanggung  jawab jika nanti terjadi infeksi pada telinga kiri anak saya dikemudian hari.
Begitu juga permintaan maaf dari manajemen Rs Fatmawati yang disampaikan pada pertemuan itu hingga saya pun bisa merasa lebih tenang dan ahirnya juga meminta maaf karena telah membuat sedikit kegaduhan dikarenakan tak tahan melihat puteri semata wayangku yang menangis kesakitan karena insiden itu.

Wassalam.

PS:
– Salah dan khilaf adalah sifat yang biasa bagi mahluk yang namanya manusia, namun, jika dari awal suster yang bersangkutan mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf secara tulus, aku pasti menerimanya dengan iklas dan tidak mempermasalahkan hal yang sangat sepele ini.
– Sepertinya putri kecilku yang sudah duduk dikelas 6 sekolah dasar islam ini sudah tak mau lagi berobat disana, kapoook….

Artikel Terkait :
– dr Ludin Gultom
– dr Supriyadi
– My Last Chemotherapy

Advertisements
Comments
  1. Kakaakin says:

    Wah… ini bakal jadi pembelajaran banget bagiku…
    Mudah2an kedepannya aku dan kawan2 nggak bakalan ceroboh dalam bekerja…
    Dan yang penting, ucapan maaf yang tulus ya 🙂
    *manggut-manggut*

  2. sitinuryani says:

    phuuuyf…ketinggalan moment bagus neh aku, padahal mo ngelihat bung oce ngeluarin jurus2 ban hitamnya tuch…
    sabar yah sayang…..kamu pasti kuat yah spt bpk mu yg kuat jg menghdp sakitnya…
    terkadang memang berat sekali yah tuk meminta maaf atas kesalahan yg di perbuat mo nya nerima aza…..mesti digalakkan tuh tuk belajar meminta maaf dr sedini mungkin

  3. ramudeng says:

    masalahnya ndak bakalan mbleber ya mas kalo langsung minta maaf dengan tulus. etapi keknya bakalan tambah seru mas kalo jiwa pendekarnya dikeluarin *penonton kecewa*

  4. Tegakkan kebenaran ! Sekecil apa pun itu, Pak !

  5. Haris says:

    Wah coba aku ikut…. tak cariin bensin… hahaha…
    Pernah juga tuh kejadian kayak gitu aku alamin bang… mau ngurus kepulangan rawat inap aja lebih dari 4 jam… gila khan. gak tahunya berkasnya cuma ditaro di atas lemari.
    Langsung saja di depan staff admin aku pura2 nelpon PresDir RS, kebetulan beliau salah satu team Hematologi yg menangani anak saya… Langsung itu staff admin tergagap-gagap minta maaf….
    Aku ngakak dalam hati….
    Sory pak, anda sendiri sih yg teledor….

  6. Yudis says:

    Wah.. kebayang dehh Bang, rasanya melihat anak diperlakukan seperti itu… ornag-orang di Republik ini masih banyak yang seperti itu, sulit sekali minta maaf atas kesalahannya, yang nyata maupun tidak… sengaja ataupun tidak… masih perlu waktu lama untuk menjadfi negara maju… setuju dengan tindakan Bang Oce… salam kenal Bang….

    Yudis
    Di Lahirkan dan Tinggal di Tangerang-Banten.

    note: saya suka dengan tulisan2nya.

  7. Liga says:

    gilee yaa broo..!,ampe gitu..gw yg baca tulisan ini aja sewoot bacanya,mang bangsat abis tuh manusia kaya gitoo.!

  8. pirman says:

    saya mau kasih saran ajah ..untuk para perawat tolong jangan kasar klo ada keluarga besuk yg salah ..tolong pakay etika memberi tahu kan ..tolong pihak rumah sakit itu melayani dong jangan seenak nya apalagi yg menggunakan jamkesda dll ..jangan di bedakan tolong saya ..di gd sularto lantay 2perawat yg laki laki bicara nya ga bisa pelan ..ciri yg berewokan tolong ..berikan pelayanan yg memuaskan ..

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s