dr Ludin Gultom SpPd

Posted: May 27, 2010 in Uncategorized
Tags: , , , , , , , , ,

Persahabatanku dengan doker yg satu ini sangat unik dan spesial, bermula dari seringnya kami bertemu pada tahun taun pertama kehidupanku dengan LEUKEMIA.

Hubunganku dengan beliau semakin akrab saja apalagi karena seringnya beliau mengunjungi bangsalku ketika aku berkali kali dirawat di rs Fatmawati, sampai sampai beliau pernah melontarkan sebuah banyolan yg menurutku sangat kasar untuk ukuran seorang dokter kepada pasiennya yaitu dengan entengnya dia menyapaku dengan logat bataknya yang kental : “Woy,,, masih idup luh…?

Sambil tersenyum kecut akupun menjawab : “Masih doong,,,  meskipun dalam hati aku mengumpat, (sialan) kurang ajar banget nih orang… !

Kedekatan kami semakin berlanjut ketika seringnya aku bertanya kepada beliau tentang penyakitku, terutama sampai berapa lama saya sanggup bertahan hidup dengan penyakit kanker darah ini, beliau hanya senyum senyum saja menanggapi pertanyaan saya,  malah beliau mengajarkanku sebuah cara untuk mengetahui jumlah leukosit dalam darahku, dengan tanpa melakukan uji laboratorium melalui tes darah.

Caranya begitu simpel, hanya saja butuh sedikit perasaan dan perkiraan yang harus diulang ulang,  yaitu  dengan cara menekankan ujung jari telunjuk  pada perut sebelah kiri atas atau tepat dibawah tulang rusuk terakir dan merasakan serta memperkirakan seberapa besar pembengkakan pada organ limpa kita sendiri atau para penderita leukemia pada umumnya.

Pada dua bulan pertama, perkiraanku masih jauh melenceng dari angka angka yang dihasilkan oleh labolatorium klinik tempatku biasa memeriksakan darahku setiap bulannya, namun untuk yang ketiga kalinya dan seterusnya hasilnya cukup akurat, meskipun tidak sama persis seperti angka angka yang tertera pada lembar hasil dari laboratorium, sehingga aku bisa sedikit mengirit biaya dalam pengeluaran rutin bulananku, terutama untuk periksa darah. Beliau juga mengajarkan aku untuk bisa menentukan dosis obat sitostatika (kemo) untuk diriku sendiri, agar aku tidak memiliki ketergantungan dengan dokter ahli darah.

Caranya ialah dengan melihat hasil tes darah dari laboratorium, atau bahkan hasil tes yang aku lakukan sendiri tanpa pergi ke laboratorium, dan hasilnya cukup fantastis karena menurut beliau, hanya akulah satu satunya pasien beliau yang masih bisa bertahan hingga hampir selama enam tahun. Alhamdulillah…

Bukan hanya itu saja, beliau juga menyuruhku untuk datang ke ruangannya di poli penyakit dalam Rs Fatmawati lantai II, tanpa mendaftar ke loket, alias tanpa membayar atau GRATIS. Karena yang aku butuhkan darinya hanyalah secarik kertas resep untuk bisa menebus obat sitostatika (kemo) yang setiap bulan harus aku beli.

Karena seringnya aku menerobos masuk ke ruangannya tanpa mendaftar, aku seperti merasa banyak mata pasien lain yang mengantri sejak pagi seolah olah memperhatikan kelakuanku hingga aku merasa risih dan tidak enak hati berbuat seperti itu, namun jika aku datang dengan mendaftar ke loket, beliau malah sedikit marah dan berkata : Woy,,, belagu banget nih anak, udah kebanyakan duit luh…?

sekali kali dok,,, gak enak kan diliatin orang mulu,,,  jawabku cepat.

Dan ahirnya kami memiliki cara jitu untuk bertemu di ruangannya tanpa menimbulkan kecurigaan dari para pasien yang telah antri sejak pagi hari, yaitu dengan cara aku menunggu beliau di tempat parkir, kemudian berjalan beriringan menuju ruangannya dilantai dua sambil membawakan tas kecilnya. Kami masuk kedalam ruangannya, lalu,,, setelah sedikit memeriksa kondisiku dan mencatat “status atau riwayat pengobatanku yg aku buat sendiri, ahirnya,,,  secarik resep aku dapatkan dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan dari para pasien lain yang sudah menunggu sejak pagi hari, bahkan beberapa orang suster yang melayani ruang poli tersebut nyaris  juga tidak mengetahuinya, dikiranya aku adalah salah seorang asistennya.

Aku bahkan beberapa kali mendapatkan resep ganda yang sudah dibubuhkan tanda tangan dan stempel, namun yang satu diberi tanggal dan yang lainnya dibiarkan kosong. Cara seperti ini menurutku boleh boleh saja, karena aku tidak merugikan fihak manapun juga, bahkan rumah sakit sekalipun, karena seandainya saja beliau tidak malas membawa resep di tas kecilnya itu, maka konsultasi ditempat parkirpun tidak menjadi masalah buatku.

Namun pada awal th 2009 aku tidak bisa lagi konsultasi dan bertemu dengan cara yang unik itu, karena beliau sudah memasuki masa pensiun. Meskipun masih berpraktek di Rs Fatmawati tetapi hanya di instalasi  “Griya Husada” atau instalasi yang dikelola oleh lembaga suasta hingga sekarang ini.Dan berbeda dengan sebelumnya, jika aku ingin konsultasi dengan beliau di instalasi suasta ini, maka aku harus rela mendaftar diloket, bahkan dengan tarif yang lebih mahal dua kali lipat, karena fasilitas dirumah sakit yang dikelola suasta ini lebih nyaman dengan berbagai fasilitas pendukung yang baik dan tentunya sedikit yang mengantri.

Namun… kami tetap mencari cari cara dan siasat, agar beliau tidak terlalu banyak menarik keuntungan dari saya yang  sudah dianggap seperti saudaranya sendiri,  dan kami mensiasatinya dengan cara mudahnya beliau memberi resep yang tidak diberi tanggal dalam jumlah yang aku inginkan, jadi konsultasinya bisa empat bulan sekali, he he…

Kedekatanku dengan dr ludin Gultom ini tidak semata mata karena seringnya dia merawatku dibangsal rumah sakit, namun lebih dikarenakan beliau adalah salah seorang dokter yang tergabung dalam YKI ( Yayasan Kanker Indonesia). Dan aku adalah salah seorang pasien kanker yang pernah memeriksakan penyakitku di YKI, Dan  karena amat sedikit sekali pasien kanker darah yang memeriksakan penyakitnya disana, maka beliau sangat jarang datang ke ruangannya yang bertempat di YKI Lebak Bulus jakarta selatan itu,  dan beliau hanya sekali kali saja datang jika dikabarkan bahwa ada pasien yang telah mendaftar disana dan ingin berkonsultasi dengan dokter ahli darah seperti beliau.

Dan karena tidak banyak bahkan tidak ada lagi  pasien lain yang menunggu setelah saya, maka saya memiliki banyak waktu untuk bertanya tentang segala suatu yang berkenaan dengan penyakitku.  Puas deh pokoknya…

Namun sejak Nopember 2009, aku tidak pernah lagi konsultasi dengan beliau, dikarenakan aku sudah bisa mendapatkan obat sitostatika  dari India tanpa menggunakan resep, serta  kondisiku yang relatif lebih stabil.  Artinya adalah aku sudah tidak lagi membutuhkan secarik resep untuk menebus  obat sitostatika, dan aku tidak lagi membutuhkan nasehat nasihat kedokteran darinya.

Namun…  hubungan persahabatan antara aku dengan dokter internis yang sangat baik hati itu tidak terputus sampai disitu saja, karena aku akan terus menjaga persahabatan ini untuk selamanya.

Dan aku akan selalu mendoakan agar beliau dan keluarganya selalu sehat, dan selalu mendapat lindungan dari Allah SWT, meskipun beliau berbeda akidah dengan saya.

Terimakasih banyak atas persahabatan yang terjalin selama ini,  terimakasih banyak Opung…

Wassalam.

Artikel Terkait :

– Obat Leukemia Menghilang
– dr Supriyadi
– Kado Dari Puteriku

Comments
  1. herryager1 says:

    Semoga cepat sembuh sobat…semangat terus dan pantang menyerah…salam

  2. Taktik yang jitu, selalu aja ada cara ya Pak Oce hehehe
    Berteman itu bisa dengan siapa saja,Pak termasuk dengan yang tidak seaqidah dengan kita. Ada aturannya….🙂

  3. Kakaakin says:

    Wah, hebat! Bisa memperkirakan leukosit sendiri😀

  4. Kaka Akin says:

    Alhamdulillah Oce terus berjuang hingga kini🙂
    Persahabatan memang indah ya, apalagi bila mendatangkan manfaat😀

  5. camera says:

    haha…
    ayo terus berjuang…

  6. Ferdi says:

    Mas Oce, hubungan kita dengan dokter yang merawat kita sepertinya turut berkontribusi dalam proses penyembuhan ya…ada seorang asisten dokter yang saya kurang suka, biasanya saya pura-pura tidur kalau tahu beliau yang akan visit…hihihi……

  7. Bersyukurrr sekali ketemu dokter yang sip. Dokter senior lagi. Salut dengan dr.Ludin Gultom SpPd. Sementara perjalananku mencari dokter sangat fantastis. Di luar dugaan. Tapi aku pun tetap bersyukur karena Tuhan membukakan mata hatiku bahwa tidak selamanya yang kuinginkan adalah baik di mata Tuhan.

    Tentang perbedaan aqidah atau perbedaan apapun di mataku hanya sebatas baju Kang Oce, hati kita yang tulus dan ikhlas hanya Tuhan yang menilai. Begitupun dengan dr.Ludinn Gultom SpPd. Seringkali mulut kita berkata ikhlas, tapi hati masih ngedumel.Aku punya pengalaman mendampingi seorang teman yang kekeh dengan keyakinannya bahwa yang menyembuhkan dia harus seorang muslim. Dan kenyataannya dia kecewa karena merasa dibodohi oleh pengobatnya. Aku pun merasa bahwa lima tahun berjalan ini belajar menarik benang merah dari banyaknya perbedaan yang ada di hadapanku. Dan perbedaan itu indah, Kang Oce….

  8. sitinuryani says:

    aku mo neh kalo yg ngerawat aku dokternya baik kayak gene….sok lah di rekomendasikan ke aku……….

  9. ocekojiro says:

    Dear all:
    Itu belum semua… Masih ada seorang dokter yang sangat cantik dan hatinya benar benar terbuat dari EMAS… Dia pun juga berbeda akidah dengan sy. Dan sy agak sangsi apakah beliau mengizinkan jika sy menuliskan tentangnya dan tentang persahabatan ini disini, semoga…

    Oya, Sy juga tidak akan lupakan begitu saja persahabatan sy dengan Pak Omri, Sahabat yogya (Siti Aniroh),Sitinuryani, Kaka akin juga Bunda Melly dan lain2.
    TERIMAKASIH BANYAK telah mengisi hidupku, suatu saat nanti sy juga akan menuliskan tentang kalian wahai sahabat2 terbaiku… dan sy akan memajang tulisan saya itu di awan tinggi, semoga…
    (Kok gw jadi sentimentil seeh… Hiks…)

    @Ferdi
    Salah seorang dokter (ahli) darahku juga sangat tidak simpatik, meskipun beliau yg melakukan proses BMP terhadap saya, namun sy tidak sudi memberikan sedikitpun penghormatan kepadanya, sama seperti dia yang selalu memandang rendah saya karena (mungkin) saya terlalu banyak bertanya, miskin dan sudah bau tanah…. (mudah2an sy selalu salah dlm menilai dia, semoga… )

  10. Naya melawan leukemia says:

    Benar2 persahabatan yg sejati, jarang terjadi antara dokter dan pasien nya

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s