Antri

Posted: February 8, 2015 in Uncategorized

20150208_015734

Lagi,,, selama tiga hari berturut turut teman sekamarku pergi menghadap Tuhanya, dan kali ini adalah bpk Fauzi yang menempati ranjang paling ujung dekat jendela yang sudah sulit dibuka karena macet.

Salah satu penyebab kalahnya lelaki yg hanya memiliki satu orang anak perempuan ini adalah terlambatnya mendapatkan tranfusi darah karena dia masuk igd awalnya di diagnosa terkena DBD karena rendahnya kadar trombosit dan hb nya, namun setelah melalui pemeriksaan lanjutan di dalam ruangan ia diketahui pula mengalami pembengkakan limpa serta tingginya kadar leukosit dalam darah yang menyebabkan demam tinggi hingga diatas 40° celcius, sehingga ada kemungkinan lelaki tersebut menderita leukemia.

Sayangnya,,, ia masuk kamar perawatan tepat pada sabtu malam dimana sudah kita ketahui bersama bahwa bangsal bangsal perawatan dirumah sakit milik pemerintah terutama pada kamar perawatan kelas 3 hanya akan diawasi oleh dokter jaga yang hanyalah dokter umum yang tidak bisa menentukan pemeriksaan lanjutan karena biasanya dokter tersebut masih belajar (sekolah).

darah

Meskipun dapat diketahui dari hasil laboratorium lelaki tersebut membutuhkan darah, namun dokter ruang tidak bisa meresepkan darah karena harus dokter sekelas penyakit dalamlah yang bisa meresepkan darah sehingga harus menunggu hingga hari senin. Namun baru sampai hari minggu siang lelaki yang rambutnya sudah banyak berwarna putih itupun meregang nyawa karena kadar darah dalam tubuhnya tidak cukup untuk menopang hidupnya.

Awalnya kami para penghuni kamar merasa sedikit tegang karena dokter jaga serta beberapa orang perawat begitu sibuk melakukan prosedur penyelamatan jiwa dengan berbagai cara dan beragam alat bantu yang mereka gunakan.

Karena tidak ada sepotong pun penyekat baik tirai maupun tabir yang membatasi setiap ranjang pasien, maka aku yang berjarak hanya tiga meter dari lelaki tersebut dengan jelas melihat seluruh proses tersebut persis seperti yang kerap aku lihat di televisi. Bahkan spontan aku sempat mengingatkan dokter dan perawat tersebut untuk menghentikan ptosedur penyelamatan jiwa yang terkesan sangat tidak manusiawi tersebut karena dengan jelas aku sudah melihat lelaki tersebut sudah menghembuskan nafas terahirnya pada beberapa menit yang lalu sedangkan mereka terus saja menekan dada lelaki tersebut berulang ulang dengan metode yang tidak aku fahami.
Nafas buatan, tekanan tekanan pada dada sampai kejut listrik membuat nafasku sesak, seolah akulah yang sedang mengalami sakarotul maut.
Selang beberapa menit kemudian prosedur penyelamatan jiwa tersebut dihentikan dan seketika ketegangan berubah menjadi isak tangis keluarga dan kerabat yang menghambur masuk kedalam ruang.

Saking ramai dan terbatasnya ruangan, aku seperti berada ditengah hujan tangis dan air mata sehingga beberapa kali aku harus mencubit tanganku sendiri untuk memastikan bahwa bukan aku yang meninggal dunia.

Selang beberapa menit kemudian tangisan pilu berpindah tempat seiring di pindahkanya jenazah untuk di bersihkan ditempat lain, meninggalkan kami para penghuni kamar yang saling tatap saling terka, siapa lagi yang akan menInggal dunia esok hari ?

Wassalam.

Artikel Terkait :

– Obat Leukemia Menghilang
– BUKU TAMU.
– MENEPI.

“Semua Tulisan Oce Kojiro”

Advertisements
Comments

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s