Bunga Kertas (2)

Posted: June 20, 2012 in Uncategorized
Tags: , , ,

bunga1

Seekor kucing liar yang kerap berkelahi dengan Si Joy kucing peliharaanku terlihat mengendap endap disamping pintu dapur yang selalu terbuka, dan tujuannya sudah bisa ditebak yaitu tempat makannya si ‘bengal yang pagi ini masih asik molor karena semalaman tidak pulang.
Sedikit sarapan yang tersisa disana sudah cukup buat mengganjal perut kucing yang tidak memiliki tempat tinggal yang jelas itu. Dan setelah menghabiskan seluruh isinya, kucing yang tubuhnya penuh bekas luka akibat pukulan dan perkelahian sesama bangsa kucing  itu pun buru buru meninggalkan tempat itu sebelum si boss kecil yang pemarah bangun dari tidurnya dan pasti akan melabraknya meskipun hanya sekedar untuk menunjukkan siapa yang berkuasa di rumah ini. Aku memperhatikan polah tingkah yang penuh kehati hatian kucing liar tersebut dari balik jendela ruang tengah dan membiarkan saja ia menghabiskan sarapan gratisnya itu sebelum akhirnya naik keatas genting dan duduk dengan manisnya bermandikan sinar matahari pagi seraya menjilati seluruh tubuhnya.

Kejadian kecil di pagi hari ini menggugah kesadaranku betapa kehidupan ini bisa sangat berbeda antara satu mahluk ciptaan Allah dengan mahluk lainnya, bahkan bisa sangat kontras bertolak belakang, dimana ada seekor kucing yang bisa dengan mudahnya mendapatkan makanan hanya dengan duduk manis didepan piring makannya yang kosong, sementara kucing yang lain harus berjuang mencari sisa sisa makanan dari tempat sampah, atau jika ingin makanan yang lebih layak dia terpaksa harus berani mencuri meskipun dengan resiko kena gebuk.

Pikiranku menerawang, mengingatkanku pada sebuah panggilan telepon yang membangunkanku dari tidur malam tadi, dan memaksaku untuk memutar otak serta ikut membujuk gadis enam belas tahun yang kondisinya saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Bapak Suhartono yang usianya tidak berbeda jauh denganku pun sudah kehabisan akal dan kata kata untuk membujuk puterinya yang akrab dipanggil Ayung itu, untuk mau mengikuti saran dari dokter mereka agar mendapat perawatan di RSCM karena kondisinya yang terus menurun. Namun Ayung yang perutnya semakin membesar karena pembengkakan organ limpa itu terus menolak karena takut dikatakan telah hamil oleh teman teman atau orang yang melihatnya dan dia lebih memilih berdiam diri didalam kamarnya serta tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk kecuali kedua orang tuanya serta kedua orang adik lelakinya yang kembar dan berusia beberapa tahun di bawahnya.

Aku sangat memahami perilaku Ayung saat ini meskipun aku bukan orang tuanya, karena pada fase yang sudah memasuki masa ‘crisis blast saat ini, tubuh gadis yang baru beranjak dewasa itu layaknya sebuah Bunga kertas  yang sangat rapuh. Lebam lebam biru kehitaman yang ada di sekujur tubuhnya dan juga darah yang kerap merembes dari gusi dan hidungnya serta membesarnya organ limpa yang menjadikan perutnya seperti wanita yang sedang hamil itu menunjukkan betapa ganasnya penyakit  yang dideritanya itu, sehingga LEUKEMIA kerap mendapat julukan “The Silent Killer”.

Awalnya aku tidak merasa keberatan ketika bapak Suhartono memintaku untuk berbicara dengan puterinya meskipun menurutku waktunya tidak terlalu tepat, namun karena kondisi Ayung yang terus memburuk bahkan sudah beberapa hari hampir hampir tidak tidur sedikitpun maka tanpa melihat waktu lagi, orang tuanya yang sudah binggung itu kembali meneleponku, kali ini memohon kepadaku agar mau membujuk puteri semata wayang mereka itu untuk bersedia dibawa ke Jakarta demi mendapatkan perawatan yang lebih baik di rumah sakit.

Aku sebenarnya sudah terbiasa menerima telepon dari para penderita leukemia yang kondisinya buruk bahkan bertemu dan berbicara langsung dengan penderita leukemia dengan kondisi yang berbeda beda pun juga sudah sering aku lakukan, tetapi belum pernah aku menemukan yang seperti ini dimana hampir selama setengah jam aku berbicara, gadis diseberang teleponku itu hanya satu kali menjawab “Ya,,, itu pun pada awal pembicaraan.

Mulanya aku binggung mau ngomong apa kepada gadis yang mulutnya selalu tertutup rapat itu, namun setelah beberapa kali terdengar sayup sayup suara serak ayahnya yang mengatakan bahwa gadis itu sedang mendengarkan, akhirnya akupun terus berbicara kepada gadis yang terus membisu itu dan mencoba memancing interaksi serta menjelaskan hal hal yang aku tahu tentang perawatan leukemia dirumah sakit.

monasAku sempat berfikir bahwa ini sia sia saja, dan hanya membuang waktu istirahatku yang beberapa saat lagi sudah memasuki waktu sholat subuh, dan aku merasa seperti tak henti hentinya berbicara dengan sebuah tembok dingin yang selalu diam. Namun setelah mengingat bahwa aku juga pernah mengalami hal serupa itu dimana kepedihan dan rasa putus asa sudah berada diatas segalanya,  aku mengurungkan niat untuk mematikan telepon celularku, dan dengan lebih melembutkan suaraku yang mulai terdengar serak, aku kembali membujuk.

Kacka…!  Ceritaku tentang Monas dan Taman Mini Indonesia Indah yang bisa dikunjunginya ketika dirawat di Jakarta membuat gadis itu tertarik dan meskipun aku tidak mendengar sedikitpun ada kata kata yang keluar dari mulutnya, bapak Suhartono yang terus menyimak semua ucapanku itu lalu menjelaskan kepadaku dengan suara terisak haru bahwa puterinya bersedia berangkat ke jakarta asal ditemani dengan kedua orang tua dan kedua adik kembarnya dan tentunya aku sebagai anak ibukota yang mau mengantarnya.
Ditengah keharuan, aku sempat tersenyum senyum sendiri didalam hati ketika mengingat tadi telah mengajak ‘bunga kertas dari Samarinda itu untuk mengunjungi Monas  seolah olah aku sudah sering pergi kesana, padahal,,, sepanjang hidupku, aku hanya sering melihat  monumen yang menjadi kebanggaan warga ibukota itu hanya dari kejauhan saja, dan sejujurnya belum pernah sekalipun aku naik keatas tugu yang dibangun oleh Presiden pertama Republik ini apalagi bisa menyentuh emas yang berada pada puncaknya, hehehe…

Dan dengan lega hati bapak Suhartono mengakhiri percakapan telepon denganku dini hari  itu persis ketika panggilan adzan subuh sudah berkumandang dari Mushollah yang berada tak jauh dari rumahku dan kemudian beliau berjanji akan meneleponku lagi pada pagi harinya atau ketika akan berangkat menuju jakarta.

BERSAMBUNG…

Tulisan Terkait:
– Bunga Kertas (1)
– FORUM LEUKEMIA.
– Hydrea 500mg.

Comments
  1. guru satap says:

    pintar sekali, saya akui Mas Oce pintar sekali membuat pembaca terlena dan penasaran. Tentu, tentu juga aku; akan selalu menunggu kelanjutan cerita itu.🙂

    Salam.

  2. ocekojiro says:

    @Guru Satap

    Mas prof,,, cerita diatas adalah kejadian kejadian biasa yang sy temuai hampir setiap hari dalam hidupku ini. Hanya saja kali ini sy ingin mencoba melatih dan mengembangkan kemampuan menulis saya sehingga bisa melukiskan kejadian yang biasa biasa saja menjadi kejadian yang sedikit lebih menarik dan enak untuk dibaca.
    Mungkin suatu saat dengan cara menulis atau menjadi ‘penulis sy bisa menghidupi diri sy beserta keluarga sy seperti yg pernah sy utarakan kepada anda.
    Sekali lagi sy mohon bimbingannya dari panjenengan atau siapapun yang bersedia menjadi ‘guru meskipun hanya melalui dunia maya.
    Wassalam.

    ocekojiro

  3. lina says:

    Allah besertamu mas Oce,,,,

  4. Nur Kholik says:

    Assalamu’alikum wr, wb. Semoga sehat selalu dan tetap semangat Mas Oce. Bagaimana kabar ” Bunga Kertas ” sekarang? Saya juga CML 4 jam dari Samarinda dan masih bolak-balik ke RSCM gabung NOA, siapa tau bisa bagi-bagi pada teman satu daerah.

  5. Nur Kholik says:

    Maaf, maksudnya bagi-bagi info. Maksih

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s