Tangisku Untuk Bunda

Posted: June 12, 2012 in Uncategorized
Tags: , , ,

Semenjak kepergian ibundaku ke Rakhmatullah pada tanggal 10 Juni 2011 yang lalu, belum sekalipun aku menangisi kepergiannya karena aku merasa sangat yakin bahwa kematiannya yang begitu indah itu adalah pertanda bahwa beliau mendapatkan khusnul khotimah dipenghujung hidupnya.  Dan kematian manusia baik yang yang pada hakikatnya adalah gerbang menuju kebahagiaan abadi seperti itu tidak layak dikotori oleh isak tangis oleh siapapun, terutama oleh anak anaknya apalagi sampai meratap dan meraung raung.

Meskipun aku menyimpan rapat rapat kesedihanku dalam hati, dan berharap tidak ada seorangpun yang akan mengetahuinya, tetapi rupa rupanya istriku diam diam memperhatikan sifat yang tidak biasa dariku ini bahkan dengan sedikit penasaran ia  menanyakan kepadaku mengapa cuma aku saja yang tidak menangis padahal semua saudara saudaraku dan kerabatku menangis sedih ketika ibundaku meninggal dunia.

“Kok bapak tidak menangis sih,,, ?  Apakah bapak tidak sedih telah ditinggal mamah ?

Sambil mencoba untuk tetap tersenyum aku menjawab, “justru karena aku teramat sayang kepadanya aku tidak ingin mengiringi kematiannya dengan isak tangis dan burayan air mata, tak terkecuali ketika mengumandangkan adzan didalam liang lahat pada saat menguburkannya,  meskipun suaraku sedikit tercekat dan terbata bata karena menahan haru dan sedih yang teramat sangat, dimana akulah orang terakhir yang bersamanya dalam liang lahat yang lembab sebelum tanah merah mengubur jasadnya.

Dan kemudian aku akan bertekat untuk terus menahan agar tidak menangisinya sampai aku bisa menyusulnya diakherat nanti, dimana pada saat itulah aku akan menumpahkan seluruh air mata yang aku miliki diatas pangkuannya sembari merasakan belayan tangan lembutnya yang selalu diusapkan dikepalaku ketika aku sakit.

Namun,,,  setelah hampir satu tahun menahan dan memendam kesedihan untuk ibundaku tercinta, sepertinya aku tidak bisa lagi menahan kepedihan dan kesedihan yang mengoyak nurani yang lemah ini untuk tidak lagi menangisi ibundaku, terutama ketika mendengar khabar bahwa ayahku ingin menikah lagi, terlebih lagi hari pernikahannya akan dilaksanakan tepat satu hari sebelum tanggal kematian ibundaku pada satu tahun yang lalu.

Sebagai muslim yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah, aku sebenarnya  tidak suka menghitung hitung hari kematian seseorang dengan mengadakan suatu acara khusus untuk memperingatinya, baik itu tujuh hari, Empat Puluh hari ataupun satu tahun. Namun sebuah tatakrama sosial yang tidak tertulis namun berlaku dalam keluarga besarku yang berdarah Jawa, dimana masa berkabung sebuah keluarga minimal harus selama satu tahun. Jadi jika ada salah satu anggota keluarga inti yang meninggal dunia, maka sebelum lewat satu tahun masa berkabung tidak boleh keluarga tersebut untuk melaksanakan perhelatan perhelatan besar seperti pernikahan maupun pertunangan, ‘pamali katanya.

Aku juga bukan seorang fanatik yang berpegang teguh pada kesetiaan buta yang melebihi batas kewajaran dimana seseorang yang telah ditinggal mati oleh pasangan hidupnya harus terus menjalani sisa hidupnya seorang diri hingga akhir hayatnya. Namun yang membuat aku belum bisa menerima keinginan ayahku untuk menikah lagi ini karena pemilihan waktu yang menurutku sangat tidak tepat,  juga karena keputusan dalam menentukan calon pengganti ibundaku itu tidak melibatkan aku dan beberapa adik adikku, yang mana paling tidak aku ingin sosok pengganti ibundaku itu memiliki sedikit kemiripan dalam sifat maupun fisik sehingga aku tidak mudah melupakan figur ibundaku yang telah terpatri kuat dalam otakku.

Dan lagi, tidak ada salahnya menikah lagi bagi seorang laki laki maupun wanita yang telah ditinggal mati pasangannya, jangankan menikah lagi karena telah ditinggal mati istrinya, bagi seorang laki laki yang ingin memiliki istri empat pun masih boleh boleh saja menurutku selama bisa berlaku adil. Namun,,, untuk kasus menikahnya lagi ayahku ini yang tidak memperhatikan waktu dan tidak meminta persetujuanku sebagai salah seorang anak kandungnya itu,  jelas telah merobek dan mencabik cabik pandanganku terhadap kesetiaan ayahku terhadap ibundaku, meskipun ibundaku telah meninggal dunia.

Dan yang membuat aku tidak pernah bisa menerimanya adalah bahwa usia ayahku saat ini telah mencapai 76 tahun, dimana baik dalam lingkungan masyarakat tempat tinggalku dan juga lingkungan akademisi di beberapa Universitas Islam negri maupun suasta beliau adalah tokoh yang menjadi panutan,,, nanti apa kata orang ?

Meskipun ini bukanlah sebuah aib yang bisa membuat malu keluarga besarku, tetapi cemooh dari masyarakat sekitarku sudah membuat telingaku memerah terutama protes dari beberapa mantan murid almarhumah ibundaku serta beberapa teman sesama pengurus pengajian di mushollah dan masjid sekitar tempat tinggalku. Karena pada dasarnya mereka merasa tidak rela almarhumah gurunya dilupakan begitu saja oleh suaminya, padahal begitu banyak jasa yang ditinggalkan oleh ibundaku kepada masyarakat di tempat tinggalku.

Pada awalnya, hampir semua kakak dan adik adikku yang berjumlah delapan orang ini merasa terkejut dan sangat keberatan akan niat dari ayahku itu, namun karena kekerasan hati ayahku akhirnya mayoritas dari saudara saudara kandungku pun menyetujui dan bersedia membantu proses pernikahan ayahku yang rambutnya sudah hampir berwarna putih seluruhnya itu dengan seorang wanita yang tidak aku kenal. Dan  sebagai seorang manusia yang pernah dilahirkan dari rahim ibundaku yang tempatnya kelak akan digantikan oleh seorang janda beranak satu itu, hatiku serasa hancur luluh dan tubuh ini seperti tak bertulang belulang lagi.

Meskipun menurut ayahku, tujuan utama dalam menikah lagi ini adalah untuk mencari seorang pendamping yang bisa merawat  pada hari tuanya dan tidak ingin merepotkan semua anak anaknya, namun alasan tersebut belum cukup membuatku untuk segera menyetujui pernikahan ayahku itu karena menurut pendapatku seharusnya ayahku yang sangat faham akan ilmu agama dan beliau telah bergelar Professor Doktor pada Universitas Islam Negeri di jakarta itu seharusnya mau memberikan anak anaknya sebuah kesempatan emas untuk mendapatkan surganya Allah SWT dengan cara memberikan kesempatan kepada anak anaknya untuk merawat dan memulyakan orang tuanya dengan segala kerendahan dan ketulusan hati mereka sendiri serta kasih sayangnya seperti ayahku merawat kami anak anaknya ketika masih kecil.

Kecewa, sedih, marah dan berbagai perasaan lain berkecamuk dalam hati ini karena aku merasa keputusan ayahku itu bertentangan dengan komitmennya selama ini yang kerap mengatakan bahwa ibundaku adalah belahan hidup dan jiwanya, dimana tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua kecuali kematian.

Dalam keheningan malam yang basah dengan air mata, aku mengadu kepada Dzat yang maha Mengetahui Segala Sesuatu, dan entah karena terlalu lelah atau karena mendapat ‘pencerahan,,, akhirnya aku menyadari bahwa  sepertinya ayahku memang tidak melanggar sedikitpun komitmenya selama ini terhadap  ibundaku.

Dan meskipun masih sedih,  akhirnya aku akan mendukung keputusan ayahku itu dan menerima dengan iklas ibu Ririn menjadi istri dari ayahku, karena biar bagaimanapun juga ayahku adalah ayahku,,, dan sebagai anak sholeh yang mengharapkan Ridho Allah SWT maka sudah seharusnya kuberikan  seluruh baktiku kepada ayahku karena hanya beliaulah satu satunya orang tua kandungku yang masih hidup.

Jakarta. 11 Juny 2012.

Wassalam.

Artikel Terkait :
– Dragon Ball
– Selamat Jalan Bunda.
– Doa Terbaik Untuk Bunda.

Advertisements

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s