protes

Posted: January 18, 2015 in Uncategorized
Tags: , ,

trm1

Minggu 18 Januari 2015 aku pulang secara paksa dari rumah sakit. Sejujurnya kepulanganku kali ini bukan karena aku ingin mencari cari masalah atau karena tidak kerasan di rumah sakit melainkan karena keinginanku yang kuat untuk terus bertahan hidup. karena jika aku terus bertahan di rumah sakit ini aku yakin aku akan mati dengan sangat mengenaskan dan tragis.

Bayangkan saja,,, ketika masuk IGD pada tanggal 14 januari yang lalu kadar HB ku masih cukup baik yaitu 10,1 namun kadar trombosit dalam darahku cuma 9 ribu saja dan itu terbilang sangat rendah sekali dan bisa menyebabkan pendarahan spontan yang dapat menyebabkan kematian.

tc1Salah seorang dokter IGD yang menanganiku sempat menyarankan agar kami mencari sebanyak minimal 40 orang pendonor darah pengganti dalam beberapa hari kedepan agar ketersediaan darahku bisa dipenuhi oleh bank darah yang berada didalam kawasan rumah sakit terbesar di Jakarta selatan ini.

Dan pada malam itupun istriku sempat memesan 10 kantong TC  (trombosit) yang diresepkan oleh dokter IGD untuk tahap tahap awal dan darah sudah dipesan dan di setujui oleh bank darah pada dini harinya.

Namun sayangnya,,, pemberian darah tersebut dikansel oleh dokter hematologi yang merawatku karena menurutnya tidak ada gunanya tranfusi tersebut dilakukan terhadap diriku karena dalam waktu dua hari trombosit yang diberikan kepadaku pasti akan habis lagi dengan cepat.

Aku sangat terpukul dengan keputusan dan keterangan dokter hematologi ku itu bahkan sempat protes keras namun bukanya meralat keputusanya dokter yang sudah terbilang senior ini malah jauh lebih galak dariku sehingga aku yang merasa masih  waras hanya diam saja tanpa membantah karena merasa tidak ada gunanya berdebat dengan seorang yang sebenarnya kita bayar untuk membantu kita melawan penyakit yang aku derita.

Sampai keesokan harinya darah masih terus saja mengucur dari gigi dan gusiku karena rendahnya kadar trombosit dalam darahku namun dokter hematologku tetap bersikukuh tidak akan memberikan tranfusi TC kepadaku dan memprioritaskan terapi dengan antibiotika untuk menghentikan pendarahan pada gigi dan gusiku. Dan karena merasa kecewa, aku memutuskan pindah ruang perawatan ke gedung Sularso dengan maksud bisa di tangani oleh dokter lain yang lebih sedikit manusiawi dan mau memberikan tranfusi TC kepadaku agar paling tidak mencegah terjadinya pendarahan besar pada tubuhku.

Namun karena masih satu rumah sakit, tetap saja yang menanganiku dokter yang sama yang tidak setuju pemberian tranfusi kepadaku juga dengan alasan yang sama. Dan karena aku terus protes pada dokter ruang dan perawat di gedung sularso maka dengan berat di resepkan juga 5 kantong trombosit untukku pada hari sabtu pagi atau genap 4 hari semenjak aku dibawa ke IGD. Dan benar terbukti seperti perkiraanku karena spontan setelah pemberian tranfusi 5 kantong TC tersebut pada hari minggu pagi pendarahan gusiku mulai mereda, namun karena pendarahanya sempat cukup lama hingga empat hari maka kadar HB dalam darahku melorot di angka 8,1 yang artinya bahaya lain kembali mengintai.

Berbekal hasil laboratoruim terbaru aku meminta perawat untuk menghubungi dokter hematologiku kembali untuk kembali memberikan tranfusi lanjutan karena trombositku masih diangka 18 ribu dan HB ku diangka 8,1 dan itu masih cukup rendah mengingat masih adanya pendarahan pada gusiku meskipun tinggal sedikit. Lagi lagi aku begitu kecewa karena dokterku kembali menolak melanjutkan tranfusi pada diriku dengan satu alasan tegas yaitu  TIDAK ADA GUNANYA.

tc2Aku tidak ingin mati konyol dan pada minggu siangnya aku berkeras untuk keluar dari kamar perawatan rumah sakit meskipun pada hari minggu kantor pelayanan BPJS tutup.
Jujur,,, aku begitu kecewa dengan dokter hematologiku yang selama ini begitu aku hormati dan segani karena beliaulah yang melakukan proses BMP pada diriku pada tahun 2004 dan beliau pula yang menjalankan proses bcr-abl serta mengusahakan obat TASIGNA kepadaku pada bulan desember 2014 yang lalu.

Kini kepercayaanku benar benar telah runtuh terhadap dokter yang terkenal galak namun cerdas itu karena aku anggap tindakanya justru amat membahayakan jiwaku meskipun mungkin menurutnya masih logis serta untuk memancing keluar kekuatan tubuhku yang teramat besar yang tersembunyi dibalik tubuh rentaku ini. Aku dianggap sudah bisa bertahan hingga selama ini dan beliau berfikir bahwa aku akan dengan mudah melewati rintangan yang menghadangku pada kali ini.

Namun sayangnya,,, beliau tidak bersedia berkomunikasi denganku layaknya seorang dokter dan pasienya kecuali hanya marah dan marah saja. Begitulah adanya beliau yang aku rasakan selama ini.

Wassalam.

Artikel Terkait :

– Obat Leukemia Menghilang
– BUKU TAMU.
– MENEPI.

“Semua Tulisan Oce Kojiro”

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s