Pagi ini tak sedingin biasanya, meskipun bekas hujan semalam masih terlihat jelas pada teras dan jalanan dimuka rumahku. Kami bangun lebih awal dari biasanya termasuk si Joy yang mulai mengeong dihadapan tempat susunya yang sudah kosong dan meminta segera diisi kembali.
Kesibukan dan keceriaan kami sangat beralasan karena pagi hari ini kami akan pulang kembali ke rumah tinggal kami yang selama tiga tahun ini telah kami tinggalkan.
Aku sudah mulai membayangkan betapa menyenangkannya memetik buah buahan dihalaman rumahku sendiri seperti pepaya, pisang, kelapa bahkan rambutan dan mangga yang aku tanam dihalaman rumahku di dekat lapangan terbang pondok cabe yang masih cukup asri.
Kedua anakku pun begitu riangnya karena sudah terbayang di benak mereka bahwa mereka akan segera menempati kamar kamar mereka kembali, bahkan anak lelakiku berniat untuk membersihkan dan mengisi kembali sebuah kolam ikan dari semen yang berukuran cukup besar di samping rumahku yang selama ini tidak diurus oleh orang yang mengontraknya.
Begitu juga puteriku yang berniat membawa Si Leo, seekor kura kura besar kesayangannya yang akan segera menempati istananya yaitu sebuah kolam dibelakang rumah, karena selama ini ia hanya menempati sebuah ember di kamar mandi tempat tinggalku yang sekarang.
Oya, tempat tinggalku yang selama tiga tahun ini kami tempati sebenarnya hanyalah sebuah toko tempat usaha kami yang di bagian belakangnya dibuat kamar dan sebuah ruang yang selama ini kami sebut rumah.
Meskipun tidak terlalu besar, kami cukup kerasan tinggal disini karena daerahnya yang cukup ramai serta tidak perlu pergi jauh untuk berangkat ketempat kerja, karena disinilah toko kami.
Semenjak aku sakit, toko inilah satu satunya usaha yang masih kami jalani, berikut delapan buah rumah kontrakan yang berada disamping rumah. Sedangkan usahaku yang lain sudah aku tinggalkan dalam kebangkrutan karena aku tak mampu lagi menjalaninya. Namun aku begitu bersukur karena rumah yang selama tiga tahun aku tinggalkan itu masih tetap menjadi milikku, karena hampir hampir saja aku jual seperti nasib tanah kebun di daerah ciputat yang harus aku jual untuk biaya pengobatan penyakitku yang mulai memperlihatkan tanda tanda membaik ahir ahir ini ( Alhamdulillah… )
Selama tiga tahun ini, kami merelakan rumah kami ini dikontrak orang lain lengkap dengan segala isinya, karena kami tidak membawa sedikitpun barang barang dan perabotan yang ada didalamnya kecuali pakaian yang kami kenakan. Dan sepertinya kami harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa banyak barang barang kami yang rusak terutama perangkat elektronik dan perlengkapan dapur.
Akupun harus rela jika besok menempati kamar tanpa AC karena sudah rusak sejak dua tahun lalu kata pengontraknya, bahkan jaringan telpon yang telah diputus beberapa tahun lalu itu memastikan bahwa kami tidak lagi punya akses inernet.
Mudah mudahan, dengan tidak adanya jaringan internet dan dunia maya dirumah kami, kami bisa kembali menjalani kehidupan nyata kami yang sederhana seperti beberapa tahun lalu.
Dan walaupun ini bukanlah ucapan selamat tinggal buat blog ku yang sederhana ini, namun aku ucapkan terima kasih yang tulus sekaligus maaf yang mendalam jika dikemudian hari aku tidak lagi bisa meng update blogku, serta memberikan tanggapan bagi komentar dari sahabat yang masuk berkunjung ke dalam blog ku ini.
Dan buat sahabat yang menitip obat hydrea kepada saya, saya pastikan bahwa obat akan sampai tanggal 20 januari dan bisa diambil tanggal 21 dirumah saya, dan ini adalah titipan terahir yang bisa saya berikan bagi sahabat penderita leukemia karena saya takut dengan ancaman hukuman penjara serta denda hingga ratusan juta rupiah, jika saya terus membawa obat itu dari india dan mengedarkanya tanpa izin resmi dari pemerintah, walaupun saya tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari obat itu. Lihat disini.
Dan ahirnya saya ucapkan banyak banyak terimakasih atas persahabatan yang indah buat semua sahabat Blogger dan WordPress di dunia maya. Dan juga persahabatan yang langgeng dalam kehidupanku yang nyata bersama sahabat penyintas kanker yang masih harus terus berjuang melawan ganasnya kanker hingga mendapat kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat seperti Siti Aniroh, Siti Nuryani, Bpk Omri, dan Mas Haris.
Mohon maaf atas segala kesalahan.
Wassalam.




