Entah apa sebenarnya yang ingin saya ungkapkan pada artikel ini, karena sejujurnya saya sendiri sedang binggung atas apa yang menimpa diri saya.
Setelah lebih dari lima tahun saya mengkonsumsi obat obatan sitostatika dan pendukungnya, fungsi hati dan fungsi ginjal saya mulai mengalami masalah, terbukti dari hasil Tes SGOT, SGPT serta UREUM dan CREATIN DARAH yang telah melampaui batas batas normal. Dan seperti banyak penderita kanker pada umumnya yang menjalani kemoterapy dalam jangka panjang, kematian karena kerusakan fungsi ginjal dan fungsi hati mungkin akan terjadi pada saya, karena kerusakan kronis pada organ organ penting dalam tubuh penderita kanker lebih banyak diakibatkan oleh penggunaan obat sitostatika (kemo) dalam jangka panjang.
Ketika hal tersebut diatas saya diskusikan dengan hematologi saya, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, karena menurut dokterku, jika fungsi hati mulai menurun, ya harus diberi obat, begitu juga jika fungsi ginjal menurun, ya dikasih obat lagi dan jika ginjalnya sudah tidak berfungsi sama sekali, ya cuci darah, dan trus jika tidak sanggup lagi cuci darah, ya tamat.
Gawat !
Ketika saya menjelajah ke ranah pengobatan alternatif, saya mendapati sebuah jawaban yang sedikit masuk akal.
Sering sekali saya mendengar istilah racun atau toxic yang harus terlebih dahulu dibuang atau dibersihkan dari tubuh, sebelum menjalani pengobatan yang sesungguhnya, baik pengobatan dengan tenaga prana maupun dengan teknik pemijatan, juga pengobatan dengan jamu jamuan (ramuan tradisionil), obat obatan herbal yang berbahan dasar tumbuhan yang telah menjalani serangkaian uji laboratorium atau secara turun temurun telah dilakukan oleh para leluhur kita, bahkan dengan terapy diet yang mengedepankan pendekatan nutrisi, vitamin dan mineral.
Dalam pengobatan yang bersifat klenik dan perdukunan pun dikenal dengan istilah membuang toxic atau racun racun yang dianalogkan dengan pembuangan mahluk jahat yang bersemayam di dalam tubuh si pasien yang berupa jin atau mahluk halus. Dan setelah jin atau dedemit yang mengganggu dalam tubuh kita itu bisa dikeluarkan maka secara otomatis kita akan kembali sehat (katanya…)
Jargon jargon membuang racun terlebih dahulu seperti yang saya sebutkan diatas, seperti manjadi andalan bagi kalangan pengobatan alternatif dalam menjelaskan sistem kerja pengobatan mereka yang masih sangat banyak dijalankan oleh sebagian besar penduduk negeri ini.
Jadi, buang dulu racun racunnya yang telah banyak menumpuk didalam tubuh, baru pengobatan yang sesungguhnya bisa berjalan dengan sempurna.
Cukup masuk akal menurut saya.
Sebaliknya, dalam dunia kesehatan modern, tidak pernah sedikitpun disinggung masalah racun atau toxic, entah karena yang namanya toxic itu memang benar benar tidak pernah ada atau memang sengaja tidak pernah di ungkap karena tubuh sebenarnya mempunyai sistim pembuangannya sendiri yang sangat canggih dan tidak pernah bisa dibandingkan dengan alat buatan manusia jenis apapun.
Jadi jika kita datang pada dokter dengan tenggorokan sakit, dokter akan langsung memberi antibiotik. Trus jika kepala kita juga sakit, kasih panadol, badan kita lesu kasih vitamin, perut mual kasih obat, batuk, kasih obat, panu kasih obat, …. kasih obat, dan seterusnya.
Padahal… ada sebuah fakta yang sangat jarang sekali diungkapkan kepada pasien bahwa sistem pembuangan tubuh manusia tidak pernah bisa membuang logam berat yang telah terlanjur masuk kedalam tubuh melalui makanan, minuman, obat obatan serta asap kendaraan bermotor yang setiap hari kita hisap. Bahkan kelebihan vitamin A,D, E dan K dalam tubuh, tidak bisa langsung dikeluarkan oleh tubuh manusia, justru malah disimpan hingga menumpuk selama bertahun tahun dalam organ hati, ginjal bahkan dibawah permukaan kulit diseluruh tubuh kita.
Banyak orang bilang, jika kita menderita penyakit sekelas kanker, kitalah yang harus cerdas dalam menyikapi persoalan penyakit yang kita derita. Jangan cuma duduk manis dan patuh mengikuti semua perintah dokter onkologi atau internis kita tanpa tahu strategi apa yang sedang dijalankan oleh dokter kita dalam memerangi penyakit yang kita derita.. Dan jangan sekali kali menyerahkan satu satunya nyawa yang kita miliki untuk dipertaruhkan dengan serangkaian pengobatan yang masih dalam tahap coba coba.
Trus bagaimana ?
Carilah dokter yang mau ikut menyertakan kita dalam peperangan yang sebenarnya milik kita sendiri, kita bayar dokter bukan untuk mengatur dan menggantungkan hidup kita kepadanya, tetapi kita bayar dokter kita untuk kita manfaatkan kepandayannya demi membantu kita dan menjadi bagian dari sistim persenjataan dan perbekalan yang akan kita bawa dalam memerangi kanker yang ada pada tubuh kita.
Bahkan kalau perlu, sang dokter juga harus mau kita ajak ikut berdiskusi tentang pengobatan alternatif yang banyak macam dan corak ragamnya dewasa ini, paling tidak, hanya sebagai perbandingan atau memberi pilihan pada pasiennya jika sang dokter tersebut memang sangat anti dengan pengobatan alternatif.
Apa ada dokter yang kayak begitu ?
Mudah mudahan saja ada dan kalaupun tidak ada, mudah mudahan aja ada seorang dokter yang membaca artikel ini hingga hatinya tergerak untuk mau melihat kasus pengobatan medis dari kacamata para pasiennya.
Semoga…
Wassalam.
Ocekojiro






