MENUNAIKAN IBADAH HAJI (salah niat)

Sebuah ide brilian aku dapatkan, yaitu bagaimana cara agar aku bisa cepat meninggalkan kehidupan dunia ini, namun tidak menyalahi aturan dasar yang digariskan dalam agama yang aku anut, bahkan bisa langsung membawaku masuk kedalam surga  jika aku mati, yaitu pergi haji.

Ya … dengan kondisiku yang lemah ini, sepertinya amat mustahil bila aku dapat kembali pulang kembali ke tanah air jika bisa berangkat haji, apalagi ditambah beberapa improfisasi seperti berangkat sendiri tanpa didampingi keluarga bahkan tanpa mengikuti yayasan penyelengara haji yang umumnya selalu dilakukan oleh mayoritas jamaah haji dari indonesia.

Oya, dalam tradisi keluargaku, setiap anak mendapat hak untuk melanjutkan sekolah sampai selesai sarjana di perguruan tinggi manapun yang diminatinya serta sebuah ongkos perjalanan haji.  Uniknya jika hak itu tidak saya ambil, maka hak itu akan hangus dengan sendirinya dan tidak bisa diganti dengan uang tunai. Jadi mumpung masih hidup, saya putuskan mengambil jatah saya itu.

Tidak seperti kakak dan adikku yang  beberapa tahun lalu yang pergi haji dengan ONH plus, aku malah mendaftar pada haji Mandiri, yaitu kelompok perjalanan haji yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama setempat atau KUA, haji mandiri adalah sebuah kelompok perjalanan haji yang dibentuk oleh masing masing daerah setingkat kecamatan, dimana pada kelompok ini hanya sedikit sekali ditarik uang perjalanan dan bimbingan ibadah ketika kita sampai di kota tempat ibadah haji diselenggarakan. Dan sebagai konsekwensinya, kita harus mengurus dan melaksanakan segala suatunya secara mandiri   tanpa ada yang mengkoordinir secara resmi baik dalam segi ibadah maupun administrasi, terutama jika kita hendak melaksanakan ibadah, ziarah dan lain sebagainya, termasuk mengurus barang bawaan sendiri.

Awalnya aku agak pesimis untuk mendaftar karena sistem pemberangkatan haji sudah didisain sedemikian rupa, sehingga siapa yang lebih dahulu mendaftar dialah yang berhak diberangkatkan terlebih dahulu, sedangkan yang belakangan mendaftar harus rela antri hingga dua bahkan tiga tahun, karena begitu banyaknya peminat ibadah ini. dan aku terkagum kagum ketika pada awal  bulan mei mendaftar dan pada awal april  namaku keluar sebagai calon haji yang akan diberangkatkan tahun itu juga.

Berkali kali aku yakinkan istri dan kedua anakku, bahwa langkah yang aku ambil ini adalah gerbang ketaatanku sebagai manusia kepada tuhannya, dan langkah ini harus aku ambil karena  hanya orang orang pilihan saja yang bisa berangkat ke tanah suci, dan belumlah lengkap pengabdian seorang yang mengaku ummat Rosulullah SAW, jika belum menunaikan ibadah yang satu ini. padahal didalam hati kecilku sebenarnya aku sedang mempersiapkan pemakamanku sendiri.  Jika bunuh diri itu sangat dilarang dalam islam, maka aku mensiasatinya dengan kemasan ibadah dan mudah mudahan saja tidak ada yang mengetahui niat ku sesungguhnya termasuk malaikat bahkan tuhan  sekalipun. dan semoga jika aku tidak kuat dan wafat disana, pintu pintu sorga telah terbuka menyambut kedatanganku. sebuah kemenangan besar aku akan dapatkan.

Hari terus berganti, aku terus memperhatikan kegiatan dan pengobatanku dengan seksama agar jika waktunya berangkat tiba, tidak ada suatu hal yang dapat menggagalkanya.
Tepat  tiga minggu sebelum keberangkatan, semua persiapan telah aku selesaikan semua termasuk meminta maaf kepada sanak famili dan juga teman temanku. Aku merasa sangat puas, seolah sebuah kemenangan besar telah ada dalam genggamanku.

Selepas solat isa berjamaah, seorang sahabat yang kerap menggajakku untuk iktikaf di banyak masjid dan musholla seputar jakarta mendatangiku, namanya adalah Ustad Ubaidillah, Ubed biasa aku menyapanya. Tanpa tedeng aling dia menanyakan maksud keberangkatanku menunaikan haji dengan sejujurnya, akupun menjawab dengan tegas apa yang menjadi keyakinanku, namun seolah tidak percaya dengan jawabanku dia kembali menanyakan hal yang sama hingga berkali kali, bahkan yang terakhir dia menyuruhku menjawab dengan hatiku, bukan dengan lisanku.

Aku hanya terdiam ketika ahirnya dia memecah kesunyian dengan menyuruhku untuk merubah niat secepatnya, sebelum semuanya menjadi sia sia. Harta, tenaga dan seluruh daya upaya yang aku kerahkan selama ini termasuk seluruh rangkaian ibadah yang pernah aku lakukan akan menjadi sia sia jika aku berangkat haji hanya untuk bunuh diri.
Jika mundur adalah tidak mungkin lagi, dan berangkatpun juga akan sia sia saja maka beliau menyarankan aku untuk tetap berangkat tetapi dengan merubah niat, bahwa niat keberangkatanku semata mata hanyalah untuk ibadah bukan yang lain, dan tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk aku bertobat,  dan merubah niat.

bersambung…

Artikel Terkait :
– Ruang
– Obat Leukemia Menghilang
– Hari Hari Terahir Yang Indah

“Semua Tulisan Oce Kojiro”

Comments
  1. CISC Yogya says:

    Hiii Oce……tulisanmu adalah kejujuran……jadi?
    Kalo kita bertanya kepada “hati” coba kita menjawabnya dengan “hati” bukan dan tidak dengan “nafs”
    Pelajaran kehidupan datang dari semua sudut kehidupan….ada kalanya sudut itu warnanya berbeda meski ada dalam satu ruang. Berjuta rasa melintasi perjalanan hidup kita dengan kanker. Jangan biarkan “nafs” mendomonasi diri….ayok kita awali dengan “niat” dari hati……….

  2. yanti says:

    asalamualaikum wr wb
    pak haji. saya tolong diajarkan amalan atau wiridan dong, berapapun banyaknya akan saya amalkan insyaaloh.
    wassalaam

  3. Ita says:

    Assalamu’alikum…. saya mau nanya, gimana caranya mendaftar haji mandiri? Saya ingin sekali menunaikan haji. Tapi, di kota tempat tinggal saya daftar tunggu jemaah haji sudah sampai 2017. Sejak September 2010 saya divonis khoriocarsinoma. Bukan karena penyakit, saya ingin naik haji. Tapi saya tidak tahu apa saya masih punya kesempatan untuk menunggu selama itu. Walaupun saya optimis untuk bisa sembuh…..tapi umur tetap rahasia Allah….terima kasih
    Wassalamu’alaikum

  4. Kennith Chhabra says:

    Hello! Would you mind if I share your blog with my myspace group? There’s a lot of people that I think would really appreciate your content. Please let me know. Many thanks

  5. djadja says:

    Assalamulaikum.
    Ibadah Haji sudah menyatukan faktor Niat, Kuat dan Sempat http://djadja.wordpress.com/2008/11/12/ibadah-haji-niat-kuat-dan-sempat/

  6. lovie says:

    Your article actually does puzzle me, it does not certainly clarify your complete level.

  7. Sri Rasidi says:

    merinding Saya…..

  8. Mana sambungan ceritanya???

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s